Featured Slider

Cerpen : Ketika Semesta Mendukung Cinta





Senja berarak meninggalkan peraduannya. Cahaya matahari yang  redup di ufuk barat membiaskan warna abstrak yang indah. Lukisan sang Maha yang selalu berbeda di sore menjelang malam, meski aku selalu berdiri pada titik yang sama tapi senja selalu memberikan warna yang tak pernah sama. Riak-riak air yang ditempa sinar keperakan, lama-lama menggelap. Adzan magrib baru saja lepas dikumandangkan. Langkah-langkah kaki kecil diseret menuju surau, dan gelak tawa anak-anak, menenangkan hati ini. Tak menyangka ragaku kembali ke tempat dimana aku bermula.

Kepalaku mendongak ke angkasa, kawanan burung tampak bergerak bersama membentuk siluet, menambah cantiknya senja hari ini. Kupejamkan mata dan perlahan-lahan memasukkan udara sebanyak-banyaknya dalam paru-paruku. Wangi laut, aroma senja, dan rindu. Harmoni yang tak pernah ada duanya.

Aku pernah mengatakan ini padamu, aku memiliki senja terindah di belakang rumahku. Senja adalah cerita yang tak pernah tuntas kuceritakan kepadamu, aku tak pernah bosan. Apalagi jika kupandang mata sipitmu membola mendengar ceritaku. Kamu awalnya tidak percaya, mana mungkin aku punya senja di belakang rumah. Apa aku tinggal di sebuah villa dengan pantai private? Aku pasti tergelak. Aku bukan sultan, ingat itu! Tawa kita pun melebur.

Semakin kutatap senja, semakin kumerindu padamu. Aku selalu berpesan padamu, carilah senja jika kau mulai merindukan aku. Percaya bahwa di belahan bumi yang lain aku pun mengarahkan pandang yang sama. Berharap dapat beradu rindu denganmu. Kita percaya pada ikatan rasa, ketika kita berada dalam satu frekuensi, rindu kita akan saling menyapa. Ketika kamu merindu, aku pasti merindu. Seperti relief, rasa itu terpatri kuat. Sekuat aku meyakininya.

Namamu Kim Dae Hyun,  pemuda berkulit kuning yang aku kenal tanpa sengaja. Wajahmu tampan seperti wajah para boy band yang tidak kusukai namun digandrungi teman-temanku. Aku bukan pecinta drama korea, aku tidak mengenali nama-nama para pesohornya, meski riuh sekelilingku membicarakan, betapa serunya nonton drakor, betapa tampan aktornya. Aku bergeming. Kalian terlalu cantik untuk menjadi pria seperti versi yang kusukai dari kaummu.

Kita bertemu di Bali, tepatnya di Nusa Dua. Waktu itu selepas subuh. Kita bertemu di traking jogging hotel yang kita tempati menginap. Aku ke Bali karena urusan pekerjaan dan kamu ke Bali karena ingin berlibur. Disitu tidak ada sunset, tapi sunrisenya sungguh indah. Kita hanya berdua menikmati langit yang tadinya gelap, pelan-pelan menjadi jingga. Lalu ada semburat warna ungu dan segaris halimun yang melintas, awan kecil yang berarak membiaskan warna-warna abstrak.
“Wow…” kamu berdecak kagum, dan menoleh ke arahku yang terdiam mematung menikmati keajaiban alam di hadapanku kini. Seolah-olah ingin mencari pembenaran. Akupun menoleh sekilas dan memberikan senyum, sambil mengangguk perlahan. Sejujurnya aku merasa terganggu. Menurutku ini peritiwa magis yang menjengkelkan jika disela. Aku sudah terbang ke nirwana bersama tujuh bidadari namun tersadari dengan adanya manusia bumi yang tiba-tiba bersuara, membangunkanku dari khayalan.
“Beautiful, isn’t!” sapamu, beramah tamah. Ingin kutunjukkan perasaan tidak suka diganggu. Tapi aku ingat, aku gak mungkin menunjukkan ketidaksopanan pada pendatang seperti dirimu. Bisa-bisa kamu pulang ke negaramu dan mengklaim semua wanita Indonesia sejudes aku. Karena jelas dari penampakan fisik, kamu bukan orang Indonesia.
“Kim Dae Hyun.” Dia mengulurkan tangan.
“Zigi.” Kusambut uluran tangganya sambil tersenyum.

Meski berkulit kuning, kamu fasih berbahasa Indonesia. Kamu kelahiran kota Bandung. Menghabiskan masa kecil hingga remajamu di sana, mengikuti orang tuamu yang bekerja di perusahaan Korea di Bandung. Walaupun sekarang kalian sudah menetap di Seoul. Tapi Indonesia adalah tanah air keduamu. Kamu lebih suka makan batagor ketimbang ttebbokki, lebih suka minum bajigur dari pada soju. Kalau yang terakhir, lebih ke pilihan hidup sebenarnya seperti kemantapan hatimu menjadi mualaf, dan menjadi penggiat remaja masjid Seoul di Itaewon. Kamu bilang, kamu takut aku mencari imam yang lain, padahal aku tahu kamu mualaf jauh sebelum kamu mengenal aku.

Keuntungan bagiku, aku tak perlu sibuk memikirkan kalimat apa yang harus aku ucapkan untuk berbicara padamu. Bahasa Inggrisku tak sebaik bahasa ibuku. Jangan tanya kemampuan bahasa Koreaku, aku cuma tahu Saranghae, itu pun karena kamu kerap mengatakan itu sambil menautkan ibu jari dan telunjukmu ke arahku, kalau begitu aku hanya bisa tersipu malu. Kemudian dengan iseng kamu menjawil hidungku, bagian dari wajahku yang paling kamu suka setelah mataku. Katamu, mataku adalah mata paling indah nomor satu di dunia, nomor duanya Aishwarya Rai. Hahaha kamu memang paling bisa membuat hatiku melambung.

Karena kamu bukan tipe lelaki yang masuk dalam list “lelaki yang membuatku menoleh dua kali ke arahnya pada pandangan pertama”. Aku tak mudah membuka hatiku padamu, aku hanya membuka hatiku sebagai teman bagimu. Kemudian kuberi garis polisi, kamu tak boleh masuk lebih dalam lagi, memasuki palung hatiku dan seenaknya mengukir reliefmu di sana, tak akan kuijinkan.

Namun, kenapa kemudian kamu begitu sempurna untuk kuabaikan? Sekuat hati aku menolakmu, namun perasaanku sendiri mengkhianatiku. Seluruhku, semestaku, bergerak menujumu. Sungguh aku tak berkutik,  perasaanku menciptakan sayapnya sendiri dan terbang menujumu. Aku tak berdaya.
Aku tidak suka mata sipitmu yang tinggal segaris jika kau tertawa. Tapi di dalamnya aku menemukan ketulusan dan danau yang ingin kuselami lebih jauh lagi.
Chagiya, aku rindu…

***
“Udah magrib. Nggak bagus anak gadis masih di luar rumah jam segini.“ Suara yang begitu kukenali mengusik lamunanku, matanya mengisyaratkan mengajakku pulang ke rumah.
Aku mengangguk dan bergerak mengikuti langkahnya. Dia, ibuku. Aku selalu sedih melihatnya menua, dan aku terlambat menyadarinya. Sejatinya, aku tidak ingin membuatnya sedih. Tapi kini, membuatnya tidak bersedih akan membuatku bersedih. Ibuku, belum bisa menerima Daehyun sebagai lelaki yang bisa kubawa ke hadapannya.

Sudah sebulan aku mencoba intens meyakinkan beliau, aku sengaja mengambil cuti untuk bisa mengambil hatinya. Sejak Daehyun terus mendesak untuk dikenalkan pada ibuku, orang tua satu-satunya yang kumiliki saat ini. Namun masih belum menemukan titik terang. Bagi ibuku, Daehyun tetap orang asing yang akan sulit melebur pada keluarga dan ketakutannya akan membawa aku pergi jauh meninggalkannya. Sebagai putri satu-satunya, berat baginya melepaskan aku yang bisa saja diabaikan di negeri seberang.

Kim Dae Hyun adalah cinta pertamaku, aku belum tahu bagaimana rasanya dicintai laki-laki selain Daehyun. Aku tak pernah bisa dan sanggup membayangkan. Bagiku cukup Daehyun saja, aku sudah bahagia. Tapi bagi ibuku, Daehyun bukanlah sumber kebahagiaanku. Aku sudah dibutakan oleh pesona drama korea yang sejujurnya tak pernah aku minati. Buat apa aku tergila-gila sama cerita romansanya. Aku sudah memiliki oppa yang lebih nyata dari pada kehaluan para bucin oppa-oppa drakor itu.

Kami berjalan dalam diam, hal terburuk selama hidupku adalah hubungan kami tidak lagi serenyah dulu sejak kehadiran Daehyun dalam kehidupanku. Ibuku tidak menyukai Daehyun. Aku hampir putus asa memperjuangkan hubungan kami. Namun Daehyun selalu sabar menyemangatiku.

Tujuh bulan sejak pandemi aku hanya bisa memendam rindu. Aku sudah lupa bagaimana rasanya tersenyum. Ada mendung yang selalu bergelayut di wajahku. Hanya Daehyun yang bisa menghiburku melalui video call. Memintaku mengencangkan doa, mengirimkan doa-doa yang bisa melunakkan hati ibu. Ingin rasanya aku terbang dan hanyut di dalam peluknya. Rindu dan takut kehilangan dia adalah rasa yang mengguncang pertahananku yang kerap jebol menganak sungai di wajahku.

Berbeda jauh dengannya, aku mengenal baik keluarganya. Beberapa kali ke Seoul, aku menginap dan  melebur di keluarga mereka. Keluarga Korea yang sangat Indonesia. Ibunya pintar mengolah masakan Indonesia. Bahkan menggabungkan keduanya. Salah satu masakan kesukaanku, adalah batagor saus gochukang. Kim Ara, adik perempuannya yang ceriwis, sedang semangat-semangatnya membangun chanel youtube berbahasa Indonesianya. Dia selalu menanyakan konten apa yang layak ditayangkan di youtube-nya.

Penerimaan keluarga Daehyun sangat berbeda jauh dengan penerimaan ibu,  saat aku mencoba mengenalkan Daehyun melalui cerita. Beliau menunjukkan ketaksukaannya. Karenanya, aku belum pernah mengijinkannya bertemu ibuku. Aku takut dia patah hati.

Bagaimana mungkin aku melukai hati perempuan yang sudah 27 tahun merawat dan membesarkanku sendirian? Sementara ayahku, aku tidak pernah mengenalnya. Sejak kecil, dia sudah meninggalkan aku dan ibuku kembali ke negaranya. Dia hanya meninggalkan jejak blasteran Eropa di wajahku, dan tubuhku yang tinggi semampai. Ibu tidak menginginkan kehidupan buruknya terulang padaku. Ah, aku tidak melihat sedikit pun niat jahat Daehyun padaku. Dia menjagaku seperti permata. Namun bagaimana aku meyakinkan perempuan yang paling aku hormati sejagad raya ini.

Chagiya…” suaraku tercekat. Sosok yang begitu kukenali berdiri di beranda rumahku, menyambut kedatanganku bersama ibu. Rinduku tertahan, tertutupi oleh sesak dan air mata yang keluar, ingin  ke menghambur dipeluknya. Tapi tertahan, aku menghargai perempuan yang berdiri disampingku.
“Dia menunggumu dari tadi. Dia datang melamarmu, dia sudah bercerita banyak. Jangan diam disitu,  sambut calon suamimu.”

Mataku terbelalak aku tak mampu lagi mencerna rasa yang berkecamuk, tubuhku menuntunku bergerak menghambur ke pelukannya. Kami menangis dalam rindu. Airmata ibuku berlinang menyaksikan cinta yang besar di hadapannya.

Dalam sujud panjang, tak henti kuucapkan syukur. Kucium tangan calon imamku yang mengimami kami sholat magrib. Lalu sungkem di kaki ibu.  Memohon restunya. Bertiga kami berpelukan dalam isak yang panjang.

***
Entah bagaimana semesta ini bergerak, bagaimana doa-doa dilangitkan dan menggerakkan hati ibu untuk menerima hubungn kami. Pada pertemuan pertama mereka, ibu sudah jatuh hati pada Daehyun. Pertemuan yang selalu aku cegah,  karena aku takut Daehyun terluka. Namun kemampuannya meyakinkan ibu adalah satu hal yang luput dariku. Aku sedang memetik buah sabarku yang selama ini menghadapi ibu dalam diam dan doa. Tidak pernah aku frontal seperti yang selalu Daehyun katakan padaku. Kelak semesta pasti berpihak pada kita.  Seyakin itu dia meyakinkanku. Kini kami diujung penantian dan doa. Menyemai buah kesabaran cinta kami.
*Chagiya: panggilan sayang (Bahasa Korea)
 
 
 

Turki : Kota Tua Bursa Yang Kaya Akan Sejarah


28 January 2018

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya jika perjalanan umroh kali ini akan lanjut sampai ke Turki. Gak tergambarkan betapa excited-nya. Terlebih perjalanan ini akan menjadi perjalanan pertama ke negara yang 3% nya berada di daratan Eropa itu. 

Perjalanan Melawan Aerophobia, Ketakutan Luar Biasa untuk Naik Pesawat





“Saya tidak pernah percaya besi bisa terbang.”

Akhirnya kalimat pamungkas itu pun keluar dari mulutnya, bukan sedang bercanda tapi dia serius bahkan nada suaranya mengandung sedikit amarah.  Meski begitu, ucapannya tetap disambut tawa membahana seantero ruang berkubikel itu. Bos baik budi tersebut tak jadi meluapkan amarah, tapi ikut tertawa menertawai dirinya sendiri.  Sebut saja namanya pak Budi, atasan saya di kantor. Beliau  seorang penderita  aerophobia, atau yang dikenal juga dengan nama aviophobia, semacam phobia atau  ketakutan untuk naik pesawat terbang. Karena ‘penyakit’ nya ini, beliau beberapa kali menolak tugas ke lapangan. Padahal tupoksi kerjaan kami jelas;   ‘jalan-jalan’. Kami berada dalam satu divisi yang sama yaitu bagian Monitoring dan Evaluasi. Singkatnya, kerjaan kami yah ke lapangan, jika hanya duduk manis di belakang meja bukan pengawasan lagi namanya.

Saat itu, saya nekat menyodorkan tiket pesawat kepadanya, meski sebenarnya tiket tersebut belum diisued hanya berupa dummy tiket, tujuannya untuk meluluhkan hatinya. Selama ini beliau tak bergeming tapi tanpa alasan jelas. Kini dengan tegas dia menyampaikan satu kalimat yang cukup membuat saya terhenyak dan lemas. Sepertinya, saya harus kembali menemaninya ke lapangan dengan menggunakan transportasi darat ke ujung timur pulau Jawa ini, perjalanan berjam-jam yang sejatinya bisa ditempuh hanya satu jam dari Jakarta. Membayangkan nasib saya yang akan berlelah-lelah di jalan, tak seberapa dibandingkan betapa panjangnya lelah saya ke depannya jika beliau tak sembuh-sembuh.

Namun sejujurnya, saat saya menertawai beliau, saya sebenarnya tengah menertawai diri saya sendiri. Dulu, saya pernah berdiri di deretan ‘penderita’ aerophobia itu. Mungkin terlalu biasa jika beberapa orang mengalami rasa cemas sebelum terbang. Namun, pada seseorang dengan aerophobia, rasa cemas ini merupakan permasalahan serius. Memang tak separah pak Budi, karena saya masih memberanikan diri naik pesawat -sebagai bawahan tentu saya tak punya banyak hak suara untuk menolak pekerjaan-. Meski keberanian ini diikuti banyak drama sebelumnya. Saya bisa tidak tidur semalaman, gelisah, panic attack, atau tiba-tiba mengalami gangguan pencernaan, langsung mual begitu masuk perut pesawat, mulut saya komat-kamit merapal doa sepanjang perjalanan dan saya bisa bertahan tetap melek sepanjang perjalanan sejauh apapun perjalanannya. Alhasil, saya akan mendarat dalam kondisi tungkai yang lemah seperti tak bertulang.

Bertahun-tahun saya memelihara ketakutan itu sampai tiba pada satu titik.  Saya harus bisa sembuh. Pekerjaan bisa membunuh saya jika tidak juga pulih karena diharuskannya sering-sering memantau pekerjaan di lapangan yang notabene harus ketemu pesawat lagi, pesawat lagi.

Saya pun mencari tahu sebanyak-banyaknya melalui linimasa mengapa fobia ini bisa terjadi? Menurut Todd Farchione, Direktur Intensive Treatment Program for Panic Disorder and Specific Phobias di Boston University, fobia tersebut terjadi karena kurangnya kontrol yang mereka miliki ketika berada dalam pesawat, ketika pintu pesawat tertutup, mereka merasa ‘terjebak’ di dalamnya. Mereka tidak dapat keluar dari sana dan itulah yang membuat ketakutan.

Secara naluri manusia akan bergerak untuk menyelamatkan diri jika situasi buruk terjadi, berbeda ketika berada dalam pesawat, kita hanya bisa pasrah dan tidak bisa kabur jika terjadi situasi buruk. Menggantungkan hidup pada satu orang, yaitu pilot, takut pada ketinggian dan kecelakaan, serta tidak memahami bagaimana proses penerbangan, juga memainkan peran pada aviophobia.

Kemudian sampailah pada suatu masa, ketika saya membaca status teman di Facebook yang mengunggah dirinya sedang berswa foto di depan pesawat.  Statusnya kira-kira begini, “Pesawat amannya di darat, tapi dia diciptakan untuk terbang.” Sederhana, tapi cukup menohok saya. Saya harus menerima takdir mengapa pesawat itu diciptakan, saya harus bisa menaklukkan ketakutan saya bagaimana pun caranya.



Hadapi!

Berkali-kali saran itu, menguing-nguing di kepala saya. Saya pun paham, semakin menghindar semakin ketakutan itu menyerang saya. Tapi bagaimana caranya. Teori tak pernah seindah prakteknya. Saya masih saja menghadapi serangan panic begitu menginjakkan kaki di airport.

Hal pertama yang saya harus lakukan adalah  saya harus mengenali ‘musuh’ saya dengan baik. Tak kenal maka tak sayang. Tak ayal, saya mulai berburu referensi tentang pesawat. Saya berubah menjadi pribadi yang seperti penggila pesawat, apapun literature tentang pesawat, saya kumpulkan. Mulai dari buku tentang aerodinamika, cara kerja pesawat, hingga ke buku antologi cerita cabin crew pun saya lahap. Pelan-pelan saya mulai merasa terbebas, simpul-simpul ketakutan itu terlerai sedikit demi sedikit, yang paling menenangkan adalah di salah satu forum diskusi yang saya ikuti di internet -membernya adalah rombongan para penakut seperti saya-namun yang menarik adalah kehadiran salah seorang teknisi pesawat. Bukannya memaparkan teori njelimet tentang how to, tapi bagaimana menghadapi ketakutan itu dengan santuy dan lucu. Orang inilah yang selalu melepaskan kita dengan dadah-dadah nya begitu pesawat mau lepas landas, orang inilah yang memastikan kalau pesawat sudah oke dan laik terbang, dengan mengangkat kedua jempolnya pada pilot.

“Kalian pikir kerjaan kami gak becus? Sehingga pesawat yang kalian tumpangi akan jatuh terjerembab di bumi, coba buka flight radar di aplikasi kalian, betapa banyaknya pesawat hilir mudik tiap detiknya, dan semua baik-baik saja. Kalaupun ada yang jatuh, hampir dipastikan 90 % adalah human error, bukan karena pesawatnya.” Seketika kami merasa dimarahi seforum itu.

Berapa kali mendengar hal itu? Sering! Tapi menerimanya dari orang yang terlibat langsung sungguh menenangkan, dia juga secara jenaka memberikan jampi-jampi sebelum terbang. Dan itu cukup sakti, seperti ini kira-kira.

Sebelum kalian melangkah masuk pintu pesawat, tepuk-tepuk dinding pesawat, terus bisikin tapi dalam hati saja. “Hai burung besar, baik-baik yah di atas sana, jangan ngambek apalagi nakal, kasian om pilot, dan teknisi ganteng yang meloloskanmu di bawah sana”, dan percayalah saya sering mempraktekkan itu.

***



Menyenangkan setelah bisa menghadapi ketakutan itu adalah saya mulai merajut mimpi baru. Traveling. Bagaimana jadinya jika saya masih memelihara fobia itu. Saya pasti takkan pernah bisa kemana-mana, takkan pernah berani bermimpi menjelajah dunia. Namun tentu saja pengalaman saya mungkin ampuh bagi orang-orang yang memiliki aviophobia ringan. Untuk yang fobia berat, tetap perlu bantuan professional.

Buku-buku, dan literature yang pernah saya kumpulkan, saya hibahkan ke pak Budi, sambil saya terus menyemangatinya seperti seorang psikolog ke pasiennya, dan bahagianya ketika suatu ketika dia memanggil saya.

“ Sam, besok kita berangkat yuk! Naik pesawat, jangan tanggung-tanggung. Langsung ke Papua!”

Keberanian beliau disambut tepukan riuh dari para stafnya, alhasil hari itu saya menemukan orang yang baru, dan saya menjadi penyaksi satu orang lagi yang berhasil menghadapi ketakutannya.

Seperti yang Farchione pernah katakan, tidak ada salahnya jika memiliki fobia terbang. Yang lebih penting adalah bagaimana Anda bereaksi pada situasi menakutkan tersebut dengan cara yang sehat, and Yes I did it.


Pic from: Pixabay



Tulisan ini dimuat di mojok  dengan link  berikut https://mojok.co/terminal/perjalanan-melawan-aerophobia-ketakutan-luar-biasa-untuk-naik-pesawat/


Beberapa waktu lalu sempat viral komentar dari akun seorang suami yang menyebut istrinya sendiri sebagai “orang lain kebetulan harus diurus”. Dalam skrinsut yang beredar di media sosial, si suami menulis begini:

“Saya ngasih uang jatah tidak semua gajih saya kasikan, saya tabung buat anak, karna anak darah daging sedang istri adalah orang lain yg kebetulan harus kita urus, intinya jangan terlalu royal, juga jangan terlalu pelit.”

Bisa diduga, pernyataannya tersebut membangunkan para istri yang terlukai hatinya. Segala sumpah serapah dan komen pedas diarahkan pada pernyataan itu.

Di sini saya tidak hendak membahas luka istri yang dianggap sebagai orang lain. Suara sebagian besar netizen sudah mewakili perasaan saya. Apalagi Lambe Turah juga sudah mengedarkan skrinsut itu.

Yang ingin saya katakan lewat tulisan ini: jika mau jujur, ada benarnya bahwa istri memang orang lain bagi suaminya.

Kalau bukan orang lain mana mungkin dinikahi toh? Hehehe. Tapi tentu saja maksudnya bukan begitu. Saya mencoba melihatnya dari sudut pandang lain.

Lima belas tahun lalu, saya hanyalah orang lain yang secara kebetulan dinikahi suami saya. Menikah tanpa pacaran terlebih dahulu pasti lebih banyak duri ketimbang bunga-bunganya. Terlalu banyak impian muluk saya sandarkan kepada lelaki asing ini dan berakhir kekecewaan. 

Saya ingin dia bisa menulis puisi buat saya. Saya ingin dia lebih banyak bicara. Saya ingin dia tidak menaruh handuk basahnya sembarangan. Saya ingin dia memencet odol dari bawah bukan dari tengah. Masih banyak ingin-ingin lain yang ternyata kemudian harus saya kompromikan.

Sampai akhirnya saya harus meyakini, saya hanya “orang lain” yang datang belakangan di kehidupannya. Saya bertemu dia ketika dia sudah menjadi manusia. Manusia seperti yang saat itu saya dapati. Saya tidak boleh memaksakan keakuan saya pada dirinya, begitu pun sebaliknya.

Meski secara hukum dan agama kami sepasang suami istri, kami tetap dua manusia berbeda. Memiliki keinginan berbeda, kepribadian berbeda, terbentuk dari lingkungan yang juga berbeda.

Awalnya saya selalu terbuai kata-kata romantis “ketika aku dan kamu menjadi aku”. Dengan segenap ego, saya memaksa dia menjadi sesuai keinginan saya, juga sebaliknya. Hasilnya? Bukan hanya saya yang stress, dia mulai menunjukkan tanda-tanda merasa salah meminang orang.

Tiga tahun pertama pernikahan adalah masa ngotot-ngototan itu. Sayangnya, semakin berusaha, kami malah semakin menjauh. Untungnya dalam tiga tahun pertama itu kami disibukkan mengurus dua anak dan lupa bahwa kami masing-masing menyimpan bara.

Lima tahun berikutnya, bara itu pelan-pelan padam. Kami mulai menerima perbedaan, menerima keakuan dan kelakuan masing-masing. Kami mulai bisa tahu waktu, kapan harus menjadi orang lain (menjadi “aku”), kapan harus menjadi “satu” tim ketika dihadapkan pada urusan rumah tangga.

Mulailah tercipta kata me time. Mulai ada waktu untuk diri sendiri. Ya, karena tak semua waktu bulat-bulat harus didedikasikan untuk keluarga. Ada waktu me-recharge energi dengan melakukan sesuatu yang disukai. Dia dengan hobinya yang tidak ada saya di dalamnya, saya dengan dengan hobi saya yang tidak ada dia di dalamnya. Clear, sekarang kami adalah dua orang asing yang berbeda di waktu-waktu tertentu.

Kemudian, setelah berhasil mengenyangkan sisi keakuan masing-masing, tiba saatnya “kembali” ke rumah. Kedua orang lain ini sama-sama membawa energi positif yang membahagiakan seluruh penghuni rumah. Anak-anak jadi bahagia melihat orang tuanya bahagia. Seketika ingin saya teriakkan kepada suami, “Hei, orang lain! Terima kasih mau kembali ke rumah dan sama-sama membagi kebahagiaannya di sini.”

Kami telah sadar, kami tak punya ikatan darah sehingga ikatan rasalah yang harus dipupuk tiap hari jika ingin memanen bahagia kelak. Itu kata orang-orang bijak. Jangan sampai kami bertahan bersama hanya karena anak-anak. Sebab, ketika anak-anak telah mandiri dan keluar dari rumah, kami akan ditinggalkan berdua lagi, bersama masalah lama yang belum selesai. kembali menjadi orang asing tanpa ikatan rasa.

Dengan menganggap suami sebagai orang lain, saya bisa menghargai keberadaan dia sebagai pribadi yang berbeda dari saya.

Tapi, beda ceritanya kalau pasangan menganggap dirinya sebagai orang lain pas ngurus kerjaan rumah tangga. Awas aja. Kalau kata netizen, bisa kelar idup lu!

#Refleksi untuk 15 tahun usia pernikahan. 110905-110920

#tulisan saya ini pernah dimuat di media online mojok.co.id tanggal 10 September 2020, lingknya : https://mojok.co/terminal/nasihat-pernikahan-istri-memang-orang-lain-bagi-suaminya/

Lagoi Bay : Pantai Super Eksotik di Barat Indonesia


Selama ini saya begitu meyakini bahwa pantai-pantai eksotik nan indah hanya ada di kawasan timur Indonesia, makin ke timur makin indah. Namun keyakinan itu patah begitu saya menginjakkan kaki di salah satu pantai terindah di Pulau Bintan, Lagoi Bay.  Saya salah besar!  Ada keindahan tersembunyi di kawasan Barat Indonesia. Pantainya luar biasa indah. Tak heran pulau Bintan menjadi destinasi favorit wisatawan mancanegara, khususnya negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Pulau Bintan mungkin sudah menjadi rumah kedua mereka. Apalagi wisatawan asing bisa dengan mudah mengakses Lagoi dari pintu masuk Singapura. Berasa miris gak sih?

Serunya Bermain di Wahana Trans Studio Themepark Cibubur

Ada tempat main baru nih namanya Trans Studio Theme Park Cibubur, baru soft launching tgl 12 Juli 2019 lalu, bener-bener masih fresh! Grand launching menunggu semua wahananya siap diluncurkan. Berbekal tiket yang kami dapatkan setengah harga dari harga reguler, kemaren kami mencoba menjajal berbagai wahana permainan di sana. Yuk intip keseruan kami di sini!



Pulau Gosong Sanggalau : Padang Pasir di tengah lautan

Siap menggosong di pulau gosong? Yuk siapkan sun blockmu, pake topi atau jilbab, dan jangan lupa sunglasses, selain membuatmu makin keren juga untuk menghalau sinar matahari yang lagi silau-silaunya. Ada sensasi sendiri berada di atas pulau pasir ini, kita seolah-olah terdampar disebuah pulau tak berpenghuni.

Ada berapa banyak pulau gosong di Indonesia? Banyak!!! Pulau Pasir di Belitung, Pulau Harapan di Kepulauan Seribu, Pulau Bunging di Takabonerate dan masih banyak lagi.  Coba sebutkan yang kamu tahu. Daan,  kali ini karena kita masih main-main di kepulauan Derawan, rasanya ada yang kurang kalau kita gak mampir selfie syantik di Padang Pasir Sanggalau, aka pulau Gosong (baca: Gusung) aka pulau Botak atau apapun namanya itu. Yuk selfie syantik di marih!