Featured Slider

Pengalaman nginap di LTS Homestay Swiss Garden Residence

Seperti janji saya sebelumnya, akan me-review penginapan kami selama 4D3N  di Kuala Lumpur. Nah selama  di KL, kami nginap di LTS Swiss Garden Residence di kawasan Bukit Bintang,  booking via Agoda dengan harga 2 jutaan, dan menurut saya itu murah dengan segala fasilitas yang ada. 

pic cantik ini di comot dari inet

Setiap bepergian sama kiddos, salah satu hal yang harus menjadi pertimbangan utama adalah Penginapan, kalau bisa nyaman bagi kiddos,  konsekuensi dari kenyamanan berarti susah dapat yang bener-bener murah kecuali mungkin dewi arjuna aka keberuntungan lagi memihakmu. Untuk harga, sebenarnya relatif ya berbanding lurus dengan fasilitas yang kita dapatkan.

Last Day: Shopping Kilat di Central Market, Mampir Putrajaya cuzz Bandara


Finally...time is over
Pulang kita yah kiddos, libur lebaran lanjut extend libur ke KL, udah terlalu jauh kita mangkir dari sekolah, yang paling nekat sih si kiddos#2, baru masuk SMP, gak ikut MPS (Masa Perkenalan Sekolah). Maaf Pak dan Bu Guru, emak juga gak mau rugi kalau liburan di batalkan... nanti juga bakal kenal sama teman, sekolah dan bapak ibu gurunya. Alhamdulillah sih diijinkan.
Terus bagaimana kami  memaksimalkan  hari terakhir liburan kali ini?

#Day3: Melawan takut ketinggian di Sky Awana Genting hingga gagal kalap di GPO

Gak terasa udah hari ketiga aja... hari ini kita akan melakukan perjalanan yang cukup jauh, ke Genting Highland yang jarak tempuhnya 1-2 jam tergantung traffik, hanya ingin menikmati naik cable car (lagi) lalu mampir menikmati bentangan alam dari chin shew temple dan tentu saja window shopping di Genting Premium Outlet ( kalau ini sih maunya emak). 
Aslinya si putri tegang, mepet mulu ke emaknya hehehe
Di Genting ada apa aja sih selain Casino nya yang femes itu? Nah di sana selain Casino de Genting, ada First World Plaza yang nyambung sama Sky Avenue Mall yang di dalamnya ada Theme Park Indoor,  Kompleks Kuil Gua Chin Swee Temple, dan Cable Car Skyway. Namun untuk ke Casino gak memungkinkan bagi yang bawa anak-anak, meski sekedar liat-liat doang. Lah terus kita ngapain jauh-jauh kesini? Yuk lanjut baca seseruan kita disini.

#Day 2: Dari sesaknya antrian Aquaria, megahnya Petronas Twin Tower hingga terbawa romantisme lake symphone musical fountain water dance KLCC



Traveling bersama anak-anak tentu tak bisa disamakan ketika traveling bersama teman, perlu diturunkan sedikit ritmenya, mengikuti mood mereka, kalau misalnya sudah bad mood bakal runyam deh acara yang harusnya bersenang-senang ini.

Itinerary pun dibuat selonggar mungkin, hampir tidak ada kesempatan buat emaknya shopping meskipun itu sekedar window shopping, gak ada dalam list itinerary yang dibuat, pun kalau harus curi-curi waktu yah melipir sendirian atau paling nyolek si sulung atau si tengah biar mau temenin biar gak cengo sendirian.

Hari kedua (13/7/19) agendanya  terpusat di KLCC, ke Aquaria, Naik ke Menara Twin Tower, sampai menghabiskan malam liat show water dance di pelataran suria KLCC.

#Day 1: Kuala Lumpur (lagi) with Kiddos


Seperti biasa, agenda liburan tidak pernah direncanakan dengan sungguh2. Kalaupun direncanakan matang biasanya urung terjadi. Kudu butuh trigger yg menggerakkan. Seperti ketika Final Call Free Seat Air Asia memanggil!
Insting emak2 lumayan peka jika mendengar kata gratis, jadilah kami berselancar dan menemukan tiket ke JKT- KL seharga 550 pp/org. Belum tahu mau kemana. Agenda kemana saja, nantilah menjelang hari H baru di pikirkan. Masih ada kesempatan nabung buat hunting...
Tanpa mikir panjang langsung issued, asumsi bulan Juli anak2 masih libur. Yang pada kenyataannya ternyata udah masuk hari pertama sekolah. Tapi show must go on, berangkaaattt kita, kiddos!

Surga di Maratua


Pengen bercerita sedikit tentang sepotong surga yang jatuh ke bumi, terhampar dengan sangat indahnya hingga ke palung yang paling dalam.

....Mungkin benar, Tuhan lagi tersenyum ketika menciptakan Pulau Maratua dan pulau-pulau di sekitarnya. Karena bukan hanya yang nampak, yang tersembunyi di dasar laut pun, sungguh indah.

Dan berbahagialah bagi yang memiliki kesempatan mencicipi surga ini. Sejenak saya terpukau beberapa saat begitu boat kami merapat ke dermaga pulau Maratua. Seketika saya lupa kalau baru saja melalui perjalanan yang cukup melelahkan sekaligus menegangkan, speed boat kami berkapasitas 20 orang, digerakkan dengan mesin tempel 200 PK  beberapa kali dihantam gelombang yg cukup tinggi. Terombang-ambing selama kurang lebih 3 jam dari Tanjung Redep ke Maratua. Tantangan nyebrang ke Maratua memang ini, kalau cuaca kurang mendukung ombaknya bisa gilaa...Salah seorang penumpang sampai mabuk berat, yang lainnya sih karena sesama 'pelaut kw' jadi tahan bantingan.

*Tentang Bapak*

Lelaki pembelajar itu telah pergi. Pergi dalam kesunyian. Dengan bangga selalu menyebutkan dirinya sebagai peneliti alam semesta. Beberapa kali membantah temuan ilmuwan di buku2 iptek. Bahkan menciptakan satuan ukur baru. Selain catatan tentang iptek. Catatan tentang penelitian alam semesta lengkap ditulis tangan pun di ketik manual. Beberapa masih menggunakan ejaan lama.

Berdiskusi lebih bersemangat lagi. Apalagi jika beliau merasa kita teman diskusi yg asyik. Saya termasuk pendengar yg baik karena sesekali bisa menimpali. Dan menikmati ‘my prof’ menjelaskan sedetail2nya dengan bahasa awam yg mudah di mengerti.

Lalu muncul istilah ini. “Aksi Reaksi Diaksi Mengaksi”. Bagaimana alam semesta ini saling bersinggungan. Karena seringnya mengucapkan kalimat ini. Saya dan kakak2 serta adik2 jadi familiar dan sering mengucapkan itu kala bertemu.