Day 4 #Bangkok. Madame Tussaud, Chatucak Weekend Market...

Kolase
Day 4
Setelah bermandi terik di Pattaya, hari ini kami akan mengunjungi para pesohor yang diabadikan dengan patung lilin di  Madame Tussaud Bangkok. Museum Madame Tussaud  berada di lantai 6 Siam Discovery Mall. Kami harus berangkat pagi-pagi ke Tussaud karena tiket yang kami beli adalah tiket “Early Bird” yang dipesan via online. Pesan via online bisa dapat diskon hingga 40% loh, hanya saja  kita harus datang  sebelum jam 12 siang. Hotel kami kebetulan dekat dengan Discovery Mall. Jalan kaki mungkin  kurang dari 10 menit sudah sampai di sana.


Patung lilin para pesohor bukan hanya dari kalangan artis tapi juga figur tokoh sejarah, pemimpin dunia, artis, atlet, aktor-aktris, musisi, dan tokoh-tokoh TV.  Sebelumnya, dari lantai satu di both Madame Tussaud sudah ada Kate Winslet yang bergaun merah cantik menyambut kita, di lantai 6 si ganteng Leonardo Dicarprio sudah berdiri gagah di depan pembelian tiket hanya saja kok kurang mirip yah:-). Jadi jika merasa cukup hanya perlu bertemu dengan mereka berdua tidak perlu membeli tiket. Oh ya, yang paling berkesan untuk orang Indonesia tentunya adalah Bapak Proklamator, Bung Karno. Patungnya yang gagah adalah figur pemimpin yang akan kita temui begitu kita masuk setelah figur pemimpun tuan rumah. Soekarno dengan jas putih kebanggaannya terlihat begitu gagah. Yang menarik lainnya tentu saja patung Barrack dan Michele Obama yang settingnya dibikin persis ruang kerja White House.


Bagusnya kita tidak perlu terburu-buru untuk mengamati seluruh isi museum karena tidak ada batasan waktu berapa lama pengunjung boleh berada di dalam dan properti yang disiapkan untuk berfoto sesuai karakter figur sudah lengkap. Figur MJ misalnya sudah ada topi dan mic dan kamu bisa bergaya dengan gaya moonwalknya..


Beberapa patung memang tampak sempurna mendekati aslinya seperti Britney Spears, Lady Di, Mahatma Gandi memang mirip banget -menurut saya sih-, namun tidak sedikit yang membuat kita harus menebak-nebak ini siapa sih seperti Madonna dan Julia Roberts :-). Disini, anda bisa berpose dengan piala Oscar. Di souvenir shop nya juga disiapkan jika mau dibawa pulang tentu setelah ditukar dengan 350 baht.



Karena lapar, kami menuju food court dan mendapati gerai makanan kebab turkey. Sepertinya lumayan bisa mengganjal perut yang keroncongan. Namun sistem belinya yang ribet mesti pake kartu seperti pada umumnya foodhall di sini. Membuat kami maju mundur karena enggan repot karena ribet. Setelah muter-muter akhirnya jatuhnya kembali ke kebab itu.

Perut kenyang sudah, jumpa para pesohor saatnya menghabiskan baht di chatucak weekend market. Kalap belanja...dan nyesel setengah mati sudah belanja sebelumnya di toko souvenir yang di rekomnedasikan oleh bapak pilot yang entah gadungan entah apa. Cerita pilot itu ada disini. Harga superduper murah. bisa setengah harga dari toko souvenir dimanapun. Hikks..sakitnya tuh disini.
Bandara Don Mueang International Airport


Puas belanja, saatnya pulang packing. Besok pagi kami harus meninggalkan Bangkok dan berpisah dengan teman-teman baru kami. Juga rombongan dokter yang mau banget direpotkan sama kami. Serunya di Bangkok, apalagi bisa bertemu dengan teman baru dan teman kantor Indri yang sudah setahun diperbantukan di SEAFDEC. Thanks Indri sama oleh-oleh mangga Bangkoknya yang enak  dan buah delima merahnya yang ketinggalan :-(. Semoga berkesempatan kesana lagi, pengen ke Phuket.



Day 3 #Bangkok. " Dari Mini Siam, Pattaya Beach di tutup dengan Alcazar Show yang Spektakuler"


Day 3...
Hari ini bangun dengan bersemangat. Tujuan hari ini adalah ke Pattaya. Rasanya kalau tanpa nebeng mungkin agak berat kesana, selain sepanjang hari Bangkok selalu diliputi mendung, kekhawatiran akan turun hujan. Butuh waktu yang panjang untuk bisa sampai kesana. Kami seperti tim hore diantara rombongan dokter-dokter yang cantik dan professor yang baik hati.Kami berangkat jam 10an dan seperti dugaan kami sebelumnya hujan turun sedemikian derasnya di sebagian perjalanan kami. Waktu dhuhur pun sampai namun perjalanan masih jauh . Karena kami masih harus bertemu dengan macet. Meski bukan weekend, namun ada perbaikan jalan yang membuat kami harus antri sekian  kilometer.  Sementara perut mulai bernyanyi, menuntut hak untuk dipenuhi.
Interior mesjid

Ditengah perjalanan kami bertemu mesjid. Seperti fatamorgana rasanya melihat mesjid megah berwarna biru berdiri tegak. Kami memutuskan mampir dan takjub dengan arsitekturnya. Kami juga bangga mendapati terjemahan kitab suci dalam bahasa keriting:-), bahagia menemukan saudara seiman disini, meski hanya menyapa dengan salam. Nikmat...
Depan Mesjid Hidayatullah
Sayang sekali, kami tidak menemukan halal food di dekat mesjid. Memang ada restoran dan warung namun semuanya tutup. Mereka tutup setiap hari Jumat. Sampai lupa jika hari ini adalah hari Jumat:-).

Kami melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah perjalanan lancar jaya sampai akhirnya kami tiba di Mini Siam. Mini Siam mengingatkan pada TMII, Jika di TMII kita bisa keliling Indonesia dalam sekejap, di Mini Siam ini kita bisa keliling dunia. Melihat miniatur Menara Eiffel sampai Candi Prambanan.


Mini Siam

Rasa lapar kami terjawab sudah begitu melihat resto fastfood  Mc Donald di depan pintu masuk Mini Siam.
Siang lagi terik-teriknya begitu kami masuk ke dalamnya. Namun kebutuhan untuk 'keliling dunia' sambil mengabadikannya jauh lebih penting. Hehehe...sekalian nge-tag tempat pengen kemana saja. Pengennya sih pergi ke...semuanya -mimpi boleh kan- Semoga impian keliling dunia bisa terwujud sebelum aku menutup mata. Aamiien
Ditengah terik, kami sampai jumpalitan untuk mengambil view terbaik, bagaimana mengabadikan si mini-mini ini menjadi seolah-olah real. Sayang sekali beberapa miniatur memang terlalu mini seperti candi prambanan yang sulit untuk di manipulasi seolah si candi lebih besar dari objek manusianya. Untuk dapat momen dan hasil photo terbaik, sekedar saran bawalah fotografer atau setidaknya teman yang mahir take pic, bukan asal 'klik' seperti saya. Karena jelas, butuh teknik tersendiri untuk bisa mengambil gambar seolah-olah photo di take dr sumbernya :-)

Menu andalan di Mc D.

Lanjut...ke Pattaya kita. Finally sampai juga di kota pantai yang terkenal dengan wisata malamnya itu. Suasananya sih gak begitu beda dengan Kuta di Bali,keramaiannya dan banyaknya bule yang hilir mudik, yang membedakan mungkin banyaknya lady boy yang susah dibedakan dengan perempuan, bahkan beberapa bahkan jauh lebih 'peremuan' dari perempuan pada umumnya.  Kenyataan yang sungguh menyakitkan sebenarnya -sambil memandang iri tubuh seksi mereka-

Me and Sister

Sepanjang jalan  berjajar kafe, bar dan klub malam yang hingar bingar. Dentuman suara musik, kepulan asap rokok,  minuman keras dan lady boy / lady beneran? bercampur dengan keramaian pelancong yang lalu lalang. Meskipun cenderung liar, namun pengunjung tetap terjaga keamanannya.  Hari sudah menjelang sore ketika itu, kehidupan liar malam mulai disiapkan, perempuan atau entah mirip perempuan berdandan menor, mulai mendatangi klub klub malam.

Pemandangan dari View point

Jangan lupa untuk melihat Pattaya dari View Point di Ketinggian karena pemandangan yang disuguhkan sungguh memanjakan mata,  hamparan garis pantai plus gugusan hijau pepohonan dan siluet gedung-gedung bertingkat di sisi lainnya. Kapal-kapal yang sibuk di teluknya.  Jam 4 sore waktu itu langit lagi cerah-cerahnya, dan matahari lagi panas-panasnya. tanpa sunglasses mungkin susah untuk sekedar memicingkan mata. Birunya langit bertemu dengan birunya laut di garis horizon. Tidak ada kata yang bisa mewakili kecuali indah...


Karena sebentar lagi pertunjukan cabaret show yang dimainkan oleh para lady boy akan dimulai. Kami akhirnya meninggalkan view point tersebut meski sangat ingin menghabiskan waktu disana. Oh ya  sebenarnya ada dua pertunjukan kabaret terkenal di kota ini yaitu Alcazar dan Tiffany’s. Keduanya berada di Pattaya Second Road. Masing-masing pertunjukan mereka disajikan dengan memukau, kami memilih untuk menyaksikan Alcazar show. Konon Alcazar show lebih lucu dan heboh. Pertunjukan spektakuler dari para lady boy ini berlangsung kurang lebuh 1,5 jam. Tak lepas rasanya mata memandang keindahan gerak, kecantikan dan kemolekan tubuh mereka, dan juga -kasihan sebenarnya- meski mereka mungkin harus menahan sakit di bedah pisau operasi berkali-kali tapi mereka boleh bangga...hasilnya sungguh maksimal. Mereka cantik sempurna. Mungkin impian para lady boy di seluruh dunia adalah seperti lady boy di sana. Mereka memiliki kelas dan telah disiapkan panggung untuk berekspresi dan mempertunjukkan kemampuan mereka.




Selepas pertunjukan, biasanya kita dapat berfoto dengan mereka yang tentu saja masih lengkap dengan kostum super seksi dan super heboh cukup dengan membayar sejumlah uang kecil. Ah kalau mereka sudah turun panggung tak jauh beda rasanya dengan bencong dipinggir jalan. Jatuh kelas karena nagih unag receh untuk bisa foto bareng. Hilang deh image 'putri' cantik yang spektakuler di panggung broadway hehehe.

Mengingat perjalanan yang cukup jauh, sehabis pertunjukan kami memilih pulang. Setelah mampir makan Tom Yum terenak di dunia di sebuah resto pinggir laut. Karena kelelahan dan di tambah hujan deras kami tertidur di mobil yang melaju kencang. Sungguh hari yang melelahkan dan mengenyangkan.






Day 2 #Bangkok. Erawan Shrine, MBK, Asiatique yang romantis





Hari ini kami mengukur jalan mencoba merasakan denyut kota Bangkok, Start dari Big C kami menuju The Erawan Shrine (Thai: ศาลพระพรหม, San Phra Phrom) Letaknya di perempatan Ratchadamri Road dan Rama 1 Road, setelah sebelumnya melihat map, itulah jarak terdekat dr tempat kami menginap, Tentang Erawan Shrine bisa dilihat disini. Disini, kami disambut wangi dupa...dan penari-penari Thailand. Asyiknya...meski tempatnya memang sempit dan selalu rame. Masuk kesini free...(nggak nyangka bahwa tahun 2016 tempat ini di bom dan memakan korban)

The Erawan  Shrine


Jajan street food...enakk

Menikmati petualangan ini tidak terasa melelahkan meski harus berjalan kaki jauh mungkin karena rasa penasaran yang tinggi terhadap apa-apa yang kami temui di sepanjang jalan termasuk street food, oh yah kudu nyicipin rujak khas Thailand. Bumbunya bukan hanya garam cabe, tapi aneka rasa yang hanya lidah yang bisa mengungkapkan.

Mr 'Right'? Yakin...
Cocol-cocol enak


Disesatkan sama Mr Right ke sini..
Tuk-tuk...
Dari toko souvenir, dengan menumpang bajaj dari Erawan Shrine kami melanjutkan langkah kaki menuju Lumphini Park. Menyusuri jalan  Rama I. Setelah melangkah cukup jauh sampailah kami di Lumphini park. Namun kami tidak masuk ke dalam masih terlalu pagi lagi dibersihkan. Dan kami bertemu bapak yang mengenalkan diri sebagai pilot dan mengatakan bahwa banyak drugger di dalam dan menyarankan kami untuk ke toko souvenir. Awalnya, kami menganggap dia bagaikan malaikat, secara kami berempat cewek cewek. Tapi belakangan saya mulai 'ngeh' terhadap modus yang mungkin mengenai kami. Orang-orang seperti Bapak Pilot ini sudah menunggui tempat-tempat yang akan dikunjungi turis untuk mengarahkan ke toko souvenir yang mengatakan daerah tujuan tersebut sedang dalam perbaikan, di tutup dll. Yah sudahlah, lagian kami juga free utk mau atau tidak membeli. Nyatanya di sana kami menemukan barang-barang lucu yang harganya lebih mahal. Hikks.

Selanjutnya kami menuju ke MBK (Mahboonkrong) setelah terlebih dahulu menyimpan barang-barang belanjaan kami. Di MBK kami sudah janji temu dengan rombongan dokter-dokter peserta seminar, apalagi kalau gak mau nebeng jalan-jalan gratis dengan fasilitas mobil kedutaan heheh. Di MBK belanja lagi...pashmina dan t-shirt buat oleh-oleh dan memang sangat murah. Gak sampai sejam muter-muter di MBK dan karena hari menuju petang, kami harus bersegera karena planning berikutnya adalah ke ASIATIQUE River Side.
River Side at Asiatique

Asiatique mengingatkan aku pada Kobe, suasananya hampir mirip seolah olah dejavu. Kalau di Kobe ada kapal pesiar "Concerto" yang parkir, disini jauh lebih rame dan sibuk dengan lalulintas kapal motor yang membawa turis. Semakin menjelang senja suasana semakin romantis. Beberapa pasang muda mudi dan pasangan yang mungkin lagi honeymoon tampak tak malu mengumbar keromantisan mereka. Ah..andai kamu disini:-).

Setelah menikmati Pizza dan Penne di salah satu resto di Asiatique kami pulang ke hotel, menyiapkan stamina karena besok rencana akan ke Pattaya yang memakan waktu kurang lebih 3 jam dari Bangkok. Wah rasanya gak sabar menunggu esok. Selamat malam...

Mekhong Wheel dr jauh

Kawasan Asiatique yang romantis
Dinner romantis tapi rame-rame hehehe

Foto Bareng full team

I lock my heart to you dear..

Mekhong


Menteri paling nyentrik sejagad

Minggu ini, setelah pelantikan pak Jokowi jadi presiden ke 7 sejak Republik ini berdiri, media mulai mengarahkan sorot kameranya ke bu Susi Pudjiatuti yang dipercaya menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Penampilannya yang nyentrik, perokok berat dan bertato adalah sebagian kecil yang menjadi soroton kamera, yang paling dikritisi adalah karena beliau tidak lulus wajib belajar 9 tahun. Beliau hanya tamatan SMP.

Siapa tidak kenal Bu Susi, beliau adalah pengusaha yang merangkak dari nol, yang punya 50 pesawat yang dilabeli dengan namanya Susi Air. Hanya satu-satunya di Indonesia, perempuan pula. Dari dulu saya selalu mengagumi keberhasilan dan kesuksesan beliau. Awal mengenal beliau ketika secara berseri majalah wanita langganan saya menghadirkan beliau sebagai profil yang diterbitkan berseri. Orang yang bergerak di Kelautan dan Perikanan akan sangat tahu siapa beliau.

Sungguh saya tidak menyangsikan kemampuannya yang mumpuni. Saya pengagum beliau, tapi untuk menjadi menteri di Kementerian tempat saya nyangkul ini sungguh rasanya belum tepat. Seorang menteri adalah pembuat kebijakan, pembuat regulasi, harus orang yang memiliki kepakaran di bidang kelautan dan perikanan. "Bidang Kelautan dan Perikanan". Satu hal yang  pasti, tidak seperti yang orang bayangkan tentang Kementerian ini. KKP bukan hanya soal perikanan dan produknya, ada kelautannya yang didalamnya ada zonasi, garam, BMKT, konservasi, rehabilitasi, pengawasan, dan masih banyak lagi.   Sungguh sangat kompleks tugas berat yang harus beliau emban. Bahwa beliau adalah orang hebat tak tersangsikan, semoga saya bisa terwarnai kehebatan beliau.

Selamat Bertambah Umur, Suamiku

I love you just the way you are
Sayangku..
SELAMAT BERTAMBAH UMUR
39 tahun sudah usiamu dan 9 tahun sudah aku menemanimu dan mungkin 15 tahun sudah aku mengenalmu (bantu aku mengingatnya yah). 
Terima kasih sayang untuk setianya, untuk keikhlasannya menjalani hidup denganku, untuk keputusannya mengikatkan hidupmu padaku. Terima kasih atas ikrar dan janjimu yang kau ucapkan dulu. Aku percaya, kau akan melakukan semua yang terbaik untukku. Engkau sudah terjun bebas untuk menjalani kehidupan ini bersamaku, tak ada alasan untukku menyangsikanmu.

Saat masih 'pacaran' setelah nikah:-),
Sayangku..
Semoga engkau selalu sehat, di sisa umur yang barokah, menjadi imam yang akan mengantarkan kami ke syurga-Nya kelak. 

Sayangku..
Semoga kita bisa menjalani sisa usia ini bersama-sama, aku ingin tua bersamamu. Melihat ubanmu tumbuh semakin banyak, melihatmu menjelang 'sore'. Aku ingin selalu ada untukmu, dalam sukamu apalagi dukamu.

Istrimu
-Me-

7 tahun Fathiyah, tumbuh dengan sukacita yah, Nak!

My Princess 7 tahun sekarang:-*
Metamorfosis:-D. Si endut chubbynya ilang


















Happy born day putri cantikku Fathiyah Huwaeda Zahrah. Doa terbaik untukmu, Nak. 7 tahun lalu saat hadirmu melengkapi kami. Kakakmu yg baru setahun bingung ketika ibu membawa pulang seorang bayi lagi yaitu kamu dan tampak ketakutan sekali setiap kamu menangis kencang. Sampai detik ini, ibu selalu ingat malam malam melelahkan karena tangismu paling kencang. Hanya kamu, yang membuat ibu ikut menangis kebingungan bagaimana menenangkan kamu, Nak. Berbulan bulan harus melewati malam menegangkan. Setiap lepas magrib engkau menangis kencang seperti kesakitan. Segala macam takhayul mulai dengan bodohnya ibu percayai. Karena keputusasaan semata. Sekarang kamu sudah 7tahun sudah kelas 2 Sd, sudah punya teman bermain dan dunia sendiri. Tiba-tiba ibu kangen saat saat menimangmu dulu. We love you sayang, tetap tumbuh berkembang dengan sehat, bahagia bermain di masa kanak kanakmu, patuh pada orang tua dan guru guru di sekolah.

Di tengah keluargamu yang selalu mencintaimu dengan tulus, 

Day 1#Bangkok. "Trip to Bangkok, Grand Royal Palace.."


Hari Rabu tanggal 8 Oktober 2014
Diantar muka masam ke bandara (maaf yah ayah..lagi-lagi si emak jalan lagi). Via pesawat air asia..Low Cost Carrier pukul 7.00 QZ 251 kami bertolak ke Bangkok, tepatnya di Bandara Dong Mueng . Bandara Dong Mueng ini sebenarnya khusus untuk penerbangan domestic, namun sejak tahun Oktober 2012, Air Asia mendarat di bandara ini. AirAsia memindahkan semua penerbangannya kembali ke bandara ini dikarenakan rencana penambahan armada pesawat dan kemacetan lalulintas udara yang dialami di bandara Suvarnabhumi, terutama pada jam-jam sibuk. Jadi jika terbang menggunakan maskapai ini dari kota-kota di Indonesia maupun melalui Kuala Lumpur, kita akan mendarat di Terminal 1 Dong Mueng.

Mejeng sebelum naek pesawat
Tuk-tuk...'bajaj' Bangkok. Coba deh sensasinya naik tuktuk
Singkat cerita begitu mendarat, dan urusan imigrasi dan bagasi selesai. Kami celingak celinguk mencari gate 8 yang menurut buku primbon Bangkok, di sanalah official taxi yang siap mengantar dengan tariff 200 baht untuk daerah Siam - tujuan kami - di tambah 50 baht buat fee ke drivernya. Seketika mata kami menangkap dua orang yang juga sama bingungnya dengan kami, dua cewek cantik. Si bungsu yang belakangan memperkenalkan namanya sebagai Dea menyapa. “Mbak berdua juga?” sapanya ramah. Saya lalu mengiyakan, dan mereka menawarkan diri untuk sekedar numpang tujuan. Ternyata mereka berdua lebih ‘gila’ dari kami (aku dan adekku si Eka). Mereka berangkat tanpa tujuan atau belum reservasi hotel dll, wah..jauh lebih berani yah. Akhirnya kami berempat menemukan taxi dan berempat menuju Hotel Bangkok City Inn. Mr Bunchon adalah supir taxi yang sangat ramah namun dengan bahasa Inggris yang sangat sulit di mengerti. Untungnya ketika di Bandara kami sudah membeli sim card (Happy card) untuk paket data selama 7 hari (299 baht), sehingga kami bisa surfing dan menggunakan google translate untuk mentranslate bahasa kami ke dalam bahasa tagalog.
Kika: Eka, Dea, Me, Anggi

Dengan memperdengarkan voice translate si Mr. Bunchon kerap tergelak menertawai dialek mesin yang menurut kami sudah sangat sempurna. Heheh. Mr. Bunchon sempat mengantarkan kami ke hotel  Hotel Bangkok City padahal Hotel kami adalah Hotel Bangkok City Inn memang yang membedakan hanya kata Inn-nya saja. Tapi karena Bapak ini baik banget, setidaknya melumerkan ketegangan kami, beliau orang Bangkok pertama yang bersikap sangat ramah kepada kami. Kami lalu memberinya 300 baht.

 
Setelah Check in…yang diwarnai dengan warning dengan petugas hotel “Room just for 2 person, if more you must pay 550 baht per person, kata mbak-mbak yang memelototi teman kami yang datang bersama kami, kami berusaha meyakinkan dia bahwa teman kami sekedar numpang, hanya nitip tas untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan. “ Okey, but you must know we have cctv to see you and your friends.” Yealah, galak amir...

Me and my sisters
Karena mereka berdua commit untuk traveling ala bekpeker yang sudah mempertimbangkan budget seminim mungkin dan karena rate hotel yang lumayan mahal permalamnya 1600 baht, sementara karena kami reservasi jauh-jauh hari via online..kami bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah only 600 baht. Semoga bisa menjadi catatan bagi mereka berdua. For the next trip, reservasi penginapan via online hukumnya wajib dilakukan. Selain lebih murah tentu saja ketika kita landing di Negara orang, kita sudah tahu akan menuju kemana, dimana starting point kita sebelum memulai menjelajah. Satu lagi perlu banget untuk tahu do’s dan don’t’s di Negara tujuan jangan sampai kita melakukan kesalahan yang mungkin sederhana namun karena ketidaktahuan kita akan berujung pada permasalahan.


Setelah bertemu dengan kakak yang mengikuti symposium di Bangkok, yang sudah hadir 3 hari sebelumnya, kami akhirnya ikut rombongan mereka tujuannya ke The Grand Palace. Teman-teman baruku juga akhirnya mengikuti kami, mumpung mobil minivan punya kedutaan RI ini masih lega memuat kami berempat. What a lucky us.


Tiket masuk
Ditengah mendung berat dan sesekali gerimis, kami menuju ke The Grand Palace . Pak supir namanya pak Songsong, asli Thailand namun bisa memahami dan bercakap bahasa Indonesia meski sedikit.  Hari sudah sore ketika kami sampai di The Grand Palace. Tiket masuk seharga 400baht. Usai membeli tiket tiba-tiba bagai air bah..hujan langsung mengguyur kota Bangkok. Untung sekali hujannya tidak lama, dan kami bisa langsung memasuki area The Grand Palace yang luas banget. Mengagumi keindahan arsitektur bangunan dan kemegahan pagoda berselimut warna gold yang mewah.
Lagi renovasi:-(
Add caption
Pagoda, basah selepas gerimis

Sepulang dari The Grand Royal Palace kami pulang dan mampir di Platinum Fashion, salah satu mall di Bangkok. Mengingatkan pada Mangga Dua atau Thamrin City. Namun fashionnya kurang menarik bagi saya karena modelnya rame ala India, dan kontemporer ala korea.

Depan restoran Yayoi at Big C Mall
Malamnya...semula niat mau menikmati seafood street..namun karena ada sedikit insiden terjadi, salah satu  teman terpisah dari rombongan. Karenanya..kami menghabiskan waktu untuk menyusuri kembali jalan-jalan yang kami lalui, diantara ramainya pedagang di jalan trotoar, akhirnya kami bertemu. Mood yang sudah buruk akhirnya berakhir di restoran Jepang di Big C Mall. Makanan Jepang selalu enak lumayan menjadi penutup hari yang sangat manis.


Duh tekonya cantik banget serasa mau ngantongin.


Niat awal...maunya makan di pinggir jalan seperti ini. Ikannya seger


kaki lima...sila mau beli apa aja ada...




Rasanya baru kemarin..



http://ervakurniawan.files.wordpress.com

Tak terasa sudah sampai di angka 35 tahun. Rasanya baru kemaren, aku memakai seragam TK Pertiwi dengan kotak tas makanan yang bekalnya selalu sederhana. Rasanya baru kemaren aku menangis ketakutan ketika mama hanya mengantarkan aku sampai ke pintu dan ‘tega’ membiarkan aku dengan lingkungan asing, teman-teman asing, guru-guru asing. Rasanya baru kemaren, aku belajar menyanyikan lagu-lagu pak kasur, menari tari payung dan baca puisi.
Rasanya baru kemaren Bapak mendudukkan aku semalam suntuk di atas meja kerjanya hanya karena aku belum fasih mengeja huruf dan menghitung angka. Rasanya baru kemaren Bapak memukulku karena telat pulang karena menghabiskan malam kelulusan sekolah dengan teman-teman remajaku.  Rasanya baru kemaren terima surat cinta pertamaku. Rasanya baru kemaren aku mendapatkan gelar sarjanaku.
Boleh aku merasa-rasa baru kemaren tapi nyatanya aku sudah sampai pada titik 35 tahun perjalanan usia. Ah sebegitu dewasanyakah usiaku kini, apakah sudah sedewasa  caraku bersikap?
Tuhan, aku hamba yang selalu kurang pintar berterima kasih, selalu kerap alpa. Aku tak pernah tahu, apa alasan-Mu memilihku di antara beribu sainganku untuk Kau tiupkan Ruh dan berkesempatan menghirup udara dunia. Sampai pada usia ini.  Jika jatah umur panjang seperti baginda rasul. Itu artinya sudah melewati separuh jatah hidup.  Dan apa saja nyang sudah kulakukan? Sudahkah cukup membuat-Mu tersenyum dan bangga aku sebagai hamba-Mu? Ataukah sebaliknya? Naudzubillahi
Tuhan, aku hamba tak pernah pandai berterima kasih, aku kerap lalai, namun aku tak pernah jenuh meminta, Seperti janji-Mu akan Kau perkenankan doa-doa hamba-Mu. Yah, Tuhan jadikanlah doa-doaku, doa-doa sahabatku, para handai taulan yang mendoakanku adalah doa yang layak Kau perkenankan. Berilah mereka kasih sayang seperti mereka menyayangiku.
23 Desember 2014
24 menit jelang usia 35 tahun

DARI PERTEMUAN YANG TERANCAM BATAL HINGGA EPIDODE MENGEJAR BANG RHOMA DI SENGGIGI, LOMBOK



Dengan menumpang pesawat GIA 430, kami mendarat di bandara Selaparang , Mataram tepat pukul 13.30 waktu setempat.  Panas yang menyala menyambut kami begitu keluar dari perut pesawat. Namun, rasa penasaran terhadap pulau cantik ini membuat semangat tak pernah surut meski peluh menderas. Karena ini pertama kali menginjakkan kaki di Lombok, dan seperti biasanya, setiap mengunjungi tempat baru…ada perasaan yang sumringah.
Dari banyak literature yang saya baca, Lombok adalah keindahan, decak kagum setiap pengunjung membuat saya ingin sekali membuktikan dan mengeksplorasi tempat ini sepuas-puasnya. Tapi seperti perjalanan dinas umumnya, saya tidak bisa seenaknya menentukan akan kemana saya, ada tugas, ada jadwal yang tidak mungkin dilanggar. Namun, saya bisa tersenyum bahagia, Gili Terawangan adalah pilihan kunjungan lapangan pada hari terakhir pertemuan. Setidaknya ada kesempatan menikmati salah satu dari The Three Gilis yang terkenal itu.
pemandangan dari hotel The Santosa saja sudah bikin adem hati


Siluet Senja at Pantai Senggigi
Dari bandara kami ke restoran Taliwang Irama, menikmati ayam taliwang yang enak dan pedes…!! Plecing kangkungnya dengan sambal mentah yang segerrr nyummmi. Memang beda….Kangkungnya lembut, tidak seperti kangkung yang biasa saya makan. Enak pastinya!!
± 30 menit  sampailah kami di tempat penginapan, The Santosa Resort  and Village, Alhamdulillah kesempatan meluruskan punggung dari perjalanan yang cukup melelahkan. Beruntung  sekali, penginapan ini  terletak dipanggir pantai Sengigi, setidaknya ada kesempatan disela-sela waktu rehat…untuk lari ke pantai…
The Santosa Resort  and Village
Namun disela-sela persiapan menyambut peserta pertemuan, ada kabar kurang menyenangkan. Bandara Selaparang di tutup karena runwaynya rusak. Pesawat peserta batal mendarat, mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan karena pesawat tidak dimungkinkan mendarat di Mataram, dari daerah barat Indonesia mereka tertahan di Jakarta, yang dari timur Indonesia tertahan di Surabaya, ada juga yang tertahan di Denpasar bahkan  Makassar. Oalah…hingga malam, kami belum menemukan kepastian kapan Bandara dapat di buka kembali. Pertemuan tingkat nasional ini pun terancam batal. Telepon tidak pernah berhenti krang kring, menerima keluhan dan complain dari peserta.
Alhamdulillah, setelah mendapatkan kepastian dari Angkasa Pura bahwa Bandara udah bisa dibuka pagi (Senin), kami pun bisa bernafas lega, kami sempat resah dengan isu yang beredar bahwa kemungkinan runway dalam 2 hari tidak bisa digunakan. Ah hoax seperti itu terkadang membuat naik pitam.
Acara memang tetap dilaksanakan, tapi yang pasti sudah mundur dari jadwal, pembukaan yang sekiranya dijadwalkan Senin pagi terpaksa mundur jam 2 siang. Namun jeda waktu tersebut tak mampu kami pakai untuk rehat dan jalan-jalan. Proses negotiable dengan pihak hotel masih terus dilakukan, karena dari 40 kamar yang di booking  dari hari pertama hanya 20 yang terpakai, itupun tidak terisi sempurna (sekamar semestinya 2 peserta, namun yang ada cuma 1 org). Mood yang sudah ‘rusak’ dr awalnya membuat kami kehilangan semangat.
Sunset yang indah tak bisa kami nikmati, meski pantai Senggigi hanya 100 meter di belakang hotel, namun cuaca semendung hati kami, mataharipun enggan menampakkan diri, hanya ada siluet senja, itupun kalo kami beruntung. Dua hari terkurung dihotel, dengan cuaca yang on off, panas-gerimis-panas-gerimis.
bisa bermain sepuasnya di pantai belakang hotel...
Hari ketiga di Lombok, namun belum kemana-mana. Hanya sempat sebentar kabur ke Phoenix membeli oleh2 dodol dan baju2. Karena terancam gak bakal punya kesempatan mencari oleh-oleh. Karena Rabu pagi rencana ke Gili Trawangan pulangnya langsung ke bandara karena pesawat jam 2 siang.
Malamnya ketemu bang Rhoma di meja resepsionis…yang konon lagi mau syuting film terbaru di Lombok. Mau ngajak foto bareng ternyata batt kamera lowbat wakkks….wah mesti memburu Satria Bergitar itu biar gak disangka hoax. Tapi apa daya, tidak kunjung bisa bertemu lagi. Saya sibuk apalagi bang rhoma…wakakakakwkakakwkakaka. Yah sudahlah..cukup sudah berpandang2an dengan bang haji, kalo dipinta jadi istri kan bahaya…ha….ha…
Mau berenang? Tinggal pilih...di swimming pool atau sea pool :-)

Rabu dini hari kami bertolak ke Bangsal, tempat penyeberangan ke The Three Gilis. Gili Meno, Gili Air, dan Gili Trawangan. Ketiga pulau ini semakin terkenal setelah Lonely Planet menempatkan mereka dalam daftar Top 10 Region di Best in Travel 2011. Ketiga pulau kembar yang berada di selat Lombok itu bisa disambangi secara day trip. Penyeberangan dari Bangsal ke Gili Trawangan memakan waktu ± 45 menit. Gili Trawangan merupakan Gili terjauh dibandingkan kedua Gili lainnya, jika berangkat dari Bangsal. Sewa kapal per orang ke Gili Air 6000/org, ke gili Meno 8000/org dan ke Gili Trawangan 10000/orang. 
Bangsal setelah hujan...

Pukul 07.30 waktu setempat rombongan kami menuju Bangsal dalam rinai hujan yang cukup deras, deg2an juga sih…bisa nyebrang apa tidak dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Perjalanan menuju Bangsal memakan waktu ±1,5 jam dengan menyusuri pesisir pantai hitam Senggigi Lombok Barat, tiada kata yang bisa di ucapkan selain “Subhanallah….indah nian…pemandangan pesisir pantai yang berlekuk2 dari Batu Bolong hingga ke Malimbu hills, Sebagai pecinta laut…pemandangan yang terhampar adalah mukjizat terbesar buat mata saya. Indah….
hormaaat grakk! hehehe

Sesampai di Bangsal dengan menyewa dua kapal sekaligus, kami menyeberang ke Gili Trawangan. Alhamdulillah hujan tiba2 berhenti dan udara berubah sangat cerah, berbeda dengan sebelumnya…Laut yang tenang membuat perjalanan semakin menyenangkan, meski tidak mabuk laut, namun karena tidak bisa berenang setiap kali nyeberang cukup deg-deg an juga he…he…
ayooo meluncur ke gili

Begitu sampai di Gili Trawangan, bener..maha besar sang pencipta, pantainya bersih hijau turquoise , dengan hamparan pasir putih dengan karang2nya...dengan gunung hijau yang menjadi latarnya. Fabiaayyi alaai robbi kumaa tukassiban…
mendarat eh berlabuh di gili
 
Beruntungnya saya, hari kebetulan ada pesta rakyat, yaitu mandik safar…upacara adat yang Cuma sekali setahun. Masyarakat setempat yang ternyata adalah leluhur saya (orang bugis) sudah sibuk menyiapkan sesajen…anak2nya tampak gembira. Dan turis2 Eropa dan local mulai berkerumunan menanti prosesi upacara sambil menunggu stake holder yang datang dari kabupaten. 
pantainya..beningggg banget

Pasirnya...wuihh  lembut dan putih bersih
our team

Kembali ke cerita tentang orang Bugis, saya sempat ngobrol dengan penduduk local, mereka mengatakan bahwa orang Bugislah yang pertama membuka perkampungan di sana. Bukti bahwa orang Bugis adalah passompe sudah saya dapatkan dari mana, dulu…sempat ke Banten dan menemukan masyarakat pesisirnya adalah kaum Bugis, jadilah kami bernostalgia, dengan menggunakan bahasa ibu kami. Upacara mandi safar adalah kebudayaan yang di bawa suku Bugis, para tetua adat memakai songkok pamiring yang sering dipakai pada acara2 adat di kampong kami. Ah…menemukan kaum di sini, membuat hati ini berdesir bangga. Ah bahagianya jadi orang bugis.
Momen mandi safar

bule cantik dan geulius yang ditengah bukan bule loh..hehehe

Ke Gili tanpa diving dan snorkeling ibaratnya makan sayur tanpa garam, tapi apa daya waktu tak mencukupi. Kami hanya punya waktu menikmati pulau 2 jam, karena kami mesti mengejar penerbangan kembali ke Jakarta pukul 2 siang, sementara waktu tempuh dari Bangsal ke Bandara lumayan jauh belum lagi waktu nyeberangnya. Kami hanya sempat menikmati persiapan acara adat, tidak mungkin bisa menunggu acara itu berlangsung, melihat tempat penangkaran penyu, dan bermain2 di pantai sambil mengambil gambar dari setiap sudut yang memang cantik. Tidak sempat naik cidomo (andong), ataupun rental sepeda keliling pulau. Bukan hanya di Gili Trawangan. Di kota Mataramnya pun banyak Cidomo, jujur baru melihat kota tanpa becak. Hanya di sini…
Welcome gili

Lucu banget tukik ini

Turtle Conservation

Hanya sebentar kami di Gili, pulang langsung ke Bandara dengan jalur darat yang berbeda, lewat pengunungan, jalan yang berkelok2 dan monyet!!! Iya monyet berkeliaran…. Di jalan..Ha..ha…di Pusuk inilah, kita  dapat melihat monyet berjejer dipinggir jalan sambil menanti lemparan makanan dari kendaraan yang lewat. Serasa mengunjungi taman safari khusus monyet.
Pisangnya mana....lemparin dong

Boleh bawa pulang gak buat di jadiin topeng monyet

Hanya sebentar, dan keinginan kembali sebagai wisatawan sangat besar, belum puas…belum puas….dan kata orang memang tak pernah puas mengeksplor pulau penghasil mutiara ini.  Selalu saja ingin kembali ke sana, jika anda pencinta laut…kesanalah….
Dengan pesawat GIA 433, kami meninggalkan Mataram tepat kul 14.00 waktu setempat. dengan rekaman indah tentang Lombok…Next time I will be back…I wish.
Gubbay Lombok I will back, tapi bukan mendarat di sini lagi.

Berharap bisa menang writing competition ini, dan kembali plesiran ke lombok yang murni traveling bukan kerja atau semacamnya. Pengen ke sana lagi semenjak bandara baru selesai di bangun belum pernah ke lombok lagi (2011...oh bukannya sudah begitu lama). Mudah-mudahan kelak bisa membawa keluarga kecilku ke sini. Mereka harus tahu, ada syurga tersembunyi di pulau Lombok. Salah satu tempat yang harus anda kunjungi sebelum anda mati adalah Lombok. Percayalah...