Rasanya baru kemarin..



http://ervakurniawan.files.wordpress.com

Tak terasa sudah sampai di angka 35 tahun. Rasanya baru kemaren, aku memakai seragam TK Pertiwi dengan kotak tas makanan yang bekalnya selalu sederhana. Rasanya baru kemaren aku menangis ketakutan ketika mama hanya mengantarkan aku sampai ke pintu dan ‘tega’ membiarkan aku dengan lingkungan asing, teman-teman asing, guru-guru asing. Rasanya baru kemaren, aku belajar menyanyikan lagu-lagu pak kasur, menari tari payung dan baca puisi.
Rasanya baru kemaren Bapak mendudukkan aku semalam suntuk di atas meja kerjanya hanya karena aku belum fasih mengeja huruf dan menghitung angka. Rasanya baru kemaren Bapak memukulku karena telat pulang karena menghabiskan malam kelulusan sekolah dengan teman-teman remajaku.  Rasanya baru kemaren terima surat cinta pertamaku. Rasanya baru kemaren aku mendapatkan gelar sarjanaku.
Boleh aku merasa-rasa baru kemaren tapi nyatanya aku sudah sampai pada titik 35 tahun perjalanan usia. Ah sebegitu dewasanyakah usiaku kini, apakah sudah sedewasa  caraku bersikap?
Tuhan, aku hamba yang selalu kurang pintar berterima kasih, selalu kerap alpa. Aku tak pernah tahu, apa alasan-Mu memilihku di antara beribu sainganku untuk Kau tiupkan Ruh dan berkesempatan menghirup udara dunia. Sampai pada usia ini.  Jika jatah umur panjang seperti baginda rasul. Itu artinya sudah melewati separuh jatah hidup.  Dan apa saja nyang sudah kulakukan? Sudahkah cukup membuat-Mu tersenyum dan bangga aku sebagai hamba-Mu? Ataukah sebaliknya? Naudzubillahi
Tuhan, aku hamba tak pernah pandai berterima kasih, aku kerap lalai, namun aku tak pernah jenuh meminta, Seperti janji-Mu akan Kau perkenankan doa-doa hamba-Mu. Yah, Tuhan jadikanlah doa-doaku, doa-doa sahabatku, para handai taulan yang mendoakanku adalah doa yang layak Kau perkenankan. Berilah mereka kasih sayang seperti mereka menyayangiku.
23 Desember 2014
24 menit jelang usia 35 tahun

DARI PERTEMUAN YANG TERANCAM BATAL HINGGA EPIDODE MENGEJAR BANG RHOMA DI SENGGIGI, LOMBOK



Dengan menumpang pesawat GIA 430, kami mendarat di bandara Selaparang , Mataram tepat pukul 13.30 waktu setempat.  Panas yang menyala menyambut kami begitu keluar dari perut pesawat. Namun, rasa penasaran terhadap pulau cantik ini membuat semangat tak pernah surut meski peluh menderas. Karena ini pertama kali menginjakkan kaki di Lombok, dan seperti biasanya, setiap mengunjungi tempat baru…ada perasaan yang sumringah.
Dari banyak literature yang saya baca, Lombok adalah keindahan, decak kagum setiap pengunjung membuat saya ingin sekali membuktikan dan mengeksplorasi tempat ini sepuas-puasnya. Tapi seperti perjalanan dinas umumnya, saya tidak bisa seenaknya menentukan akan kemana saya, ada tugas, ada jadwal yang tidak mungkin dilanggar. Namun, saya bisa tersenyum bahagia, Gili Terawangan adalah pilihan kunjungan lapangan pada hari terakhir pertemuan. Setidaknya ada kesempatan menikmati salah satu dari The Three Gilis yang terkenal itu.
pemandangan dari hotel The Santosa saja sudah bikin adem hati


Siluet Senja at Pantai Senggigi
Dari bandara kami ke restoran Taliwang Irama, menikmati ayam taliwang yang enak dan pedes…!! Plecing kangkungnya dengan sambal mentah yang segerrr nyummmi. Memang beda….Kangkungnya lembut, tidak seperti kangkung yang biasa saya makan. Enak pastinya!!
± 30 menit  sampailah kami di tempat penginapan, The Santosa Resort  and Village, Alhamdulillah kesempatan meluruskan punggung dari perjalanan yang cukup melelahkan. Beruntung  sekali, penginapan ini  terletak dipanggir pantai Sengigi, setidaknya ada kesempatan disela-sela waktu rehat…untuk lari ke pantai…
The Santosa Resort  and Village
Namun disela-sela persiapan menyambut peserta pertemuan, ada kabar kurang menyenangkan. Bandara Selaparang di tutup karena runwaynya rusak. Pesawat peserta batal mendarat, mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan karena pesawat tidak dimungkinkan mendarat di Mataram, dari daerah barat Indonesia mereka tertahan di Jakarta, yang dari timur Indonesia tertahan di Surabaya, ada juga yang tertahan di Denpasar bahkan  Makassar. Oalah…hingga malam, kami belum menemukan kepastian kapan Bandara dapat di buka kembali. Pertemuan tingkat nasional ini pun terancam batal. Telepon tidak pernah berhenti krang kring, menerima keluhan dan complain dari peserta.
Alhamdulillah, setelah mendapatkan kepastian dari Angkasa Pura bahwa Bandara udah bisa dibuka pagi (Senin), kami pun bisa bernafas lega, kami sempat resah dengan isu yang beredar bahwa kemungkinan runway dalam 2 hari tidak bisa digunakan. Ah hoax seperti itu terkadang membuat naik pitam.
Acara memang tetap dilaksanakan, tapi yang pasti sudah mundur dari jadwal, pembukaan yang sekiranya dijadwalkan Senin pagi terpaksa mundur jam 2 siang. Namun jeda waktu tersebut tak mampu kami pakai untuk rehat dan jalan-jalan. Proses negotiable dengan pihak hotel masih terus dilakukan, karena dari 40 kamar yang di booking  dari hari pertama hanya 20 yang terpakai, itupun tidak terisi sempurna (sekamar semestinya 2 peserta, namun yang ada cuma 1 org). Mood yang sudah ‘rusak’ dr awalnya membuat kami kehilangan semangat.
Sunset yang indah tak bisa kami nikmati, meski pantai Senggigi hanya 100 meter di belakang hotel, namun cuaca semendung hati kami, mataharipun enggan menampakkan diri, hanya ada siluet senja, itupun kalo kami beruntung. Dua hari terkurung dihotel, dengan cuaca yang on off, panas-gerimis-panas-gerimis.
bisa bermain sepuasnya di pantai belakang hotel...
Hari ketiga di Lombok, namun belum kemana-mana. Hanya sempat sebentar kabur ke Phoenix membeli oleh2 dodol dan baju2. Karena terancam gak bakal punya kesempatan mencari oleh-oleh. Karena Rabu pagi rencana ke Gili Trawangan pulangnya langsung ke bandara karena pesawat jam 2 siang.
Malamnya ketemu bang Rhoma di meja resepsionis…yang konon lagi mau syuting film terbaru di Lombok. Mau ngajak foto bareng ternyata batt kamera lowbat wakkks….wah mesti memburu Satria Bergitar itu biar gak disangka hoax. Tapi apa daya, tidak kunjung bisa bertemu lagi. Saya sibuk apalagi bang rhoma…wakakakakwkakakwkakaka. Yah sudahlah..cukup sudah berpandang2an dengan bang haji, kalo dipinta jadi istri kan bahaya…ha….ha…
Mau berenang? Tinggal pilih...di swimming pool atau sea pool :-)

Rabu dini hari kami bertolak ke Bangsal, tempat penyeberangan ke The Three Gilis. Gili Meno, Gili Air, dan Gili Trawangan. Ketiga pulau ini semakin terkenal setelah Lonely Planet menempatkan mereka dalam daftar Top 10 Region di Best in Travel 2011. Ketiga pulau kembar yang berada di selat Lombok itu bisa disambangi secara day trip. Penyeberangan dari Bangsal ke Gili Trawangan memakan waktu ± 45 menit. Gili Trawangan merupakan Gili terjauh dibandingkan kedua Gili lainnya, jika berangkat dari Bangsal. Sewa kapal per orang ke Gili Air 6000/org, ke gili Meno 8000/org dan ke Gili Trawangan 10000/orang. 
Bangsal setelah hujan...

Pukul 07.30 waktu setempat rombongan kami menuju Bangsal dalam rinai hujan yang cukup deras, deg2an juga sih…bisa nyebrang apa tidak dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Perjalanan menuju Bangsal memakan waktu ±1,5 jam dengan menyusuri pesisir pantai hitam Senggigi Lombok Barat, tiada kata yang bisa di ucapkan selain “Subhanallah….indah nian…pemandangan pesisir pantai yang berlekuk2 dari Batu Bolong hingga ke Malimbu hills, Sebagai pecinta laut…pemandangan yang terhampar adalah mukjizat terbesar buat mata saya. Indah….
hormaaat grakk! hehehe

Sesampai di Bangsal dengan menyewa dua kapal sekaligus, kami menyeberang ke Gili Trawangan. Alhamdulillah hujan tiba2 berhenti dan udara berubah sangat cerah, berbeda dengan sebelumnya…Laut yang tenang membuat perjalanan semakin menyenangkan, meski tidak mabuk laut, namun karena tidak bisa berenang setiap kali nyeberang cukup deg-deg an juga he…he…
ayooo meluncur ke gili

Begitu sampai di Gili Trawangan, bener..maha besar sang pencipta, pantainya bersih hijau turquoise , dengan hamparan pasir putih dengan karang2nya...dengan gunung hijau yang menjadi latarnya. Fabiaayyi alaai robbi kumaa tukassiban…
mendarat eh berlabuh di gili
 
Beruntungnya saya, hari kebetulan ada pesta rakyat, yaitu mandik safar…upacara adat yang Cuma sekali setahun. Masyarakat setempat yang ternyata adalah leluhur saya (orang bugis) sudah sibuk menyiapkan sesajen…anak2nya tampak gembira. Dan turis2 Eropa dan local mulai berkerumunan menanti prosesi upacara sambil menunggu stake holder yang datang dari kabupaten. 
pantainya..beningggg banget

Pasirnya...wuihh  lembut dan putih bersih
our team

Kembali ke cerita tentang orang Bugis, saya sempat ngobrol dengan penduduk local, mereka mengatakan bahwa orang Bugislah yang pertama membuka perkampungan di sana. Bukti bahwa orang Bugis adalah passompe sudah saya dapatkan dari mana, dulu…sempat ke Banten dan menemukan masyarakat pesisirnya adalah kaum Bugis, jadilah kami bernostalgia, dengan menggunakan bahasa ibu kami. Upacara mandi safar adalah kebudayaan yang di bawa suku Bugis, para tetua adat memakai songkok pamiring yang sering dipakai pada acara2 adat di kampong kami. Ah…menemukan kaum di sini, membuat hati ini berdesir bangga. Ah bahagianya jadi orang bugis.
Momen mandi safar

bule cantik dan geulius yang ditengah bukan bule loh..hehehe

Ke Gili tanpa diving dan snorkeling ibaratnya makan sayur tanpa garam, tapi apa daya waktu tak mencukupi. Kami hanya punya waktu menikmati pulau 2 jam, karena kami mesti mengejar penerbangan kembali ke Jakarta pukul 2 siang, sementara waktu tempuh dari Bangsal ke Bandara lumayan jauh belum lagi waktu nyeberangnya. Kami hanya sempat menikmati persiapan acara adat, tidak mungkin bisa menunggu acara itu berlangsung, melihat tempat penangkaran penyu, dan bermain2 di pantai sambil mengambil gambar dari setiap sudut yang memang cantik. Tidak sempat naik cidomo (andong), ataupun rental sepeda keliling pulau. Bukan hanya di Gili Trawangan. Di kota Mataramnya pun banyak Cidomo, jujur baru melihat kota tanpa becak. Hanya di sini…
Welcome gili

Lucu banget tukik ini

Turtle Conservation

Hanya sebentar kami di Gili, pulang langsung ke Bandara dengan jalur darat yang berbeda, lewat pengunungan, jalan yang berkelok2 dan monyet!!! Iya monyet berkeliaran…. Di jalan..Ha..ha…di Pusuk inilah, kita  dapat melihat monyet berjejer dipinggir jalan sambil menanti lemparan makanan dari kendaraan yang lewat. Serasa mengunjungi taman safari khusus monyet.
Pisangnya mana....lemparin dong

Boleh bawa pulang gak buat di jadiin topeng monyet

Hanya sebentar, dan keinginan kembali sebagai wisatawan sangat besar, belum puas…belum puas….dan kata orang memang tak pernah puas mengeksplor pulau penghasil mutiara ini.  Selalu saja ingin kembali ke sana, jika anda pencinta laut…kesanalah….
Dengan pesawat GIA 433, kami meninggalkan Mataram tepat kul 14.00 waktu setempat. dengan rekaman indah tentang Lombok…Next time I will be back…I wish.
Gubbay Lombok I will back, tapi bukan mendarat di sini lagi.

Berharap bisa menang writing competition ini, dan kembali plesiran ke lombok yang murni traveling bukan kerja atau semacamnya. Pengen ke sana lagi semenjak bandara baru selesai di bangun belum pernah ke lombok lagi (2011...oh bukannya sudah begitu lama). Mudah-mudahan kelak bisa membawa keluarga kecilku ke sini. Mereka harus tahu, ada syurga tersembunyi di pulau Lombok. Salah satu tempat yang harus anda kunjungi sebelum anda mati adalah Lombok. Percayalah...

Sekilas Manila dalam Sekejap



Berkesempatan jalan-jalan ke luar negeri apalagi jika itu gratis pasti menyenangkan. Kesempatan  itu datang juga. Dipercaya menjadi salah satu DELRI di Conference CTI yang di selenggarakan di Manila, Philippines. Manila? Tak pernah terpikirkan olehku untuk menginjakkan kaki ke sana. Manila tidak pernah menjadi salah satu Negara yang pengen banget saya kunjungi dalam listing travelingku. Manila sama sekali tak terlirik. Kurangnya informasi tentang destinasi wisata di negara Jose Rizal ini, menjadikan Manila sepertinya tak menarik untuk di kunjungi. Seperti itukah? Kita buktikan…
Berfoto Bersama peserta Conference CTI

Senin, 8 September 2014 rush in time mengejar pesawat jam 2. SQ 959, yang dari info sebelumnya harusnya berangkat jam 5 sore jadi berubah, untungnya saya berangkat lebih pagi dari rumah ke kantor mencari info terlebih dahulu, dan tentu saja mengharap uang sangu xixixixi…

Jujur saja, ini kali pertama naik Singapore Airlines yang terkenal keren itu. Untung banget naek SQ bukan Philippines Airlines yang katanya sih kelasnya jauhhh kalau dibandingkan dengan SQ. Karena sebagian yang lainnya naik maskapai tersebut. Dan SQ memang keren, tapi sebelas dua belaslah sama Garuda yang kelasnya sama Boeing 737 200. Bedanya cuman dapat handuk hangat yang bisa buat buat adem wajah dan hati…ciee. Varian minumannya banyak, makanannya enak apalagi dessertnya. Yummi…Hanya karena dalam menu yang dibagiin selalu ada pilihan pork…jadi suka khawatir juga.
with ibu Iswari

Setelah 1,5 jam mendaratlah kami di Changi di bandara super big, super keren. Kata teman saya, ke Singapura itu berasa banget yah ke luar negerinya. Hehehe karena memang sangat berbeda sama Jakarta. Airport yang menjadi pintu utama saja sudah berbeda tidak usah cerita dalam-dalamnya. Lepas magrib via SQ 918 take off menuju Manila. Untuk sampai Manila butuh waktu 3,5 jam dengan tidak ada perbedaan waktu dengan Singapura GMT +8.  Meski berbadan besar, pesawat ini juga cukup keras mengayun begitu menghadapi angin cyclone, tapi dengan awak kabin yang cantik dan ganteng-ganteng serta ramah, dan pilot yang selalu menyapa dari ruang kokpit membuat perasaaan ini nyaman, mungkin terdengar sederhana, tapi mendengarkan permintaan maaf pilot terhadap kondisi yang tidak menyenangkan karena cuaca itu bikin hati nyaman.
The Malayan Paza Hotel, hotel kami selama di Manila
Jam 9 malam mendarat di NAIA (Ninoy Aquino Internasional Airport) Terminal 3 Manila. Begitu keluar dari perut pesawat sudah ada Mas Wira dari Indonesian Embassy yang melambai-lambaikan papan nama. Merasa tersanjung... karena bisa melalui jalur imigrasi tanpa antrian karena melalui line khusus diplomat itu sesuatu banget. Masih jelas teringat kalau harus melalui antrian imigrasi jika traveling sendiri. Wuihh bisa sejam sendiri belum lagi kalau di tanya macam-macam sama orang imigrasinya…Alhamdulillah ini mulus banget seperti jalan tol.  
Dijemput mas Wira dari Indonesian Embassy Philippines
Mas Wira baru 5 bulan di Manila, dari beliau juga dapat info kalau ada sekitar 6400 orang Indonesia yang menetap di sana. Hm…banyak juga yah…ngapain aja mereka coba. Yang jelas mereka itu bukan TKI, Manila bukanlah destinasi favorit para TKI kita. Kami bertiga (saya, Bu Is, dan Mas Bambang) diantar ke hotel The Malayan Plaza Hotel.
Wah baru tahu kalau di Manila itu stir mobil itu di sebelah kiri…

Sampai hotel jam 10 malam, ngobrol sebentar sama teman sekamar, lalu tepar dan bangun kesiangan di esok harinya…

Day 1 Selasa/9 /9/14
Pertemuan pertama ..*skip* Pertemuan di hotel Discovery lantai 41, cukup berjalan kaki dari hotel tempat kami menginap, masalah makanan tidak bermasalah, 
Makanan Hotel yang maknyuss, Desertnya selalu juara.

karena kami sudah memesan halal food kepada panitia sebelum acara. Jadi selama acara berlangsung, dimana lunch di tanggung panitia, tidak pernah menjadi masalah. J. Di cocolin sambel bawaan dari Indonesia, Kami ajak pak Bambang dan pak Setiono gabung dinner di kamar kami, namun karena kelelahan pak Nano tidak bisa bergabung sama kami.
Bekal yang meng'hidup'kan kami di sana

Kamarku yang luas, di upgrade loh...tanpa tambahan biaya senangnya
Giliran dinnernya…bingung mau cari apa. Lepas acara, magrib kami mampir ke Seven Eleven membeli nasi tanpa lauk dan satu gallon air. Lanjut ke Mega Mall jalan-jalan sambil nyari makan. Keluar masuk resto namun tidak sreg makan dengan ditemani pork dimana-mana, Akhirnya kami memilih membeli ikan bandeng presto yang beku di supermarket. Smokey Bangus Manila terkenal enak di buat oleh saudara-saudara muslim yang berada di tepian Danau Mindano. Jadilah makan malam terenak malam itu adalah ikan bandeng presto dan nasi Sevel


Day 2 Rabu 10/9/14
With DELRI di hari kedua
Greenhills menjelang sore
Pertemuan Kedua ..*skip* Delegasi dari Indonesia semakin banyak yang berdatangan hari ini. Karena banyaknya nara sumber yang tidak hadir, acara bisa lebih singkat. Jam 3 sudah selesai. Ba’da Ashar kami ke Greenhills setelah mendapat bisikan dari panitia jika pearl di sini murah-murah, ah sayang sekali sebelumnya saya sudah shopping pearl di Kultura SM. Lumayan mahal, tapi…yah sutrahlah. Di Manila susah banget dapat taxinya, harus sabar ngantri. Begitupun ketika kami mau ke Green Hills, antri taxi lama, meski yang ngantrinya Cuma 3 dan kami pengantri ke tiga, susah banget dapat taxi-nya. Kadang udah senang banget dapat taxi yang berhenti namun tiba-tiba pergi. Huh…sombong-sombong banget taxi di sana, mentang-mentang dibutuhkan banget. Mana taxinya jelek lagi…
Pearls in Greenhills. Mupeng kan...murah-murah

Di green hills kami sampai udah magrib, udah pada mau tutup *tambah mewek*. Tapi senangnya banyak ketemu saudara muslim di sini. Ibu-ibunya pakai jilbab, langsung kepikiran, wah pasti mudah mendapatkan yang halal di sini. Muslimnya berseliweran, pas tanya sana sini, ketemulah restoran Abhsar. Resto makanan Persia, india, Mediterania senangnya…aku pesan Nasi goreng.
Nosi Goreng Seafood porsi kuli yang maknyuss
Alhamdulillah, halalan Thoyyiban
Menu favorit sepanjang masa. Dan apakah karena lapar atau eneg dengan makanan hotel yang selalu ala barat yang miskin bumbu, senang banget makan nasi goreng agak pedes dengan seafood di atasnya. Tapi karena porsi jumbo. Tak sanggup saya habiskan meski sudah mendapatkan bantuan dari teman-teman sekeliling hahaha. Pulangnya kami sudah kelelahan, namun kami harus sabar mengantri taxi…hiksss perihhnya


Day 3 Kamis 11/9/14
Pertemuan Ketiga…*skip*. Hari ini aku berbungah-bungah, karena hari ini my special day. Yah…today is My Wedding Anniversary. 9 tahun bersama suami. Ah tak terasa, sayang sekali kami berjauhan suami juga susah di hubungi, suami lagi tugas di pulau Sumbawa sana. Yang membuatku senang juga karena hari ini, pertemuan cumin half day, so kami sudah janjian untuk city tour. Bahagianyaaa…Setelah 3 hari ‘terkurung’ di dalam lantai 41 gedung Discovery Suites. Dan Cuma bisa sedih menatap kota dari atas akhirnya kesempatan keluar ada.
Dari lantai 41 Discovery Suites..hanya bisa melihat Manila dari atas
 Dengan membayar 2000 peso atau sekitar 600.000 ribu, kami pun berangkat, etapi gak semudah itu saudara, kami perlu waktu juga untuk menunggu mobil travelnya. Karena dadakan memang serba sulit. Udah lama nunggu, mobil yang katanya innova, kok jadi mengecil jadi sedan…ah sudahlah, kami sudah terlalu lama menunggu. Takut keburu magrib, dan jalanan di Manila juga sama dengan Jakarta, unpredictable alias susah di tebak macetnya…
American Cemetery

Fort Santiago di Intromuros. Hampir magrib di sini...Seperti uji nyali masuk meseum magrib-magrib

Jeepney...Metromini Manila

Fort Santiago di tengah kota

Mobil travel  yang katanya Innova itu..grrrr

Toko Souvenir, isinya kayu ebony dan kerang-kerang, gak menarik buatku
Dan…kami harus membayar 600 ribu untuk mengunjungi kuburan, dan benteng…selebihnya macet parah. Menyedihkan sekali city tournya. Memang belum puas ke Manila, Tapi kalau ada yang mau ngasih gratis saya masih mau ke sana, masih penasaran naek Jeepney, sama pengen liat sepatu Imelda Marcos.