Umroh Backpacker part 2. Handling your baggage...

19 Januari 2018

Dinihari kala itu grup Jakarta sudah janjian ketemu di tempat meeting poin terminal D keberangkatan luar negeri. Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu dengan teman-teman Ubepe Jakarta yang sebelumnya sudah diakrabkan melalu grup whats app. Meski sejatinya sudah pernah bertemu, pertemuan pertama di kawasan blok M, kedua pas manasik di asrama haji pondok gede dan terakhir pas pembagian atribut dan perlengkapan di Citos. Ada mbak Lia Mirzal yang didaulat jadi bu RT terkadang bu lurah, entah yang mana yang bener, yang pasti beliaulah yang dipercaya koordinator kami (abah oscar) untuk mengkoordinir teman-teman Jakarta, and she is a good leader. Dan saya mau traveling bareng orang seperti diaaa....


Kika: Mbak Lia, Irma, saya dan Mbak Herlis
Ternyata sungguh menyenangkan bisa memiliki keluarga baru, ada Irma yang nantinya akan jadi roommate saya selama di Makkah dan Madinah, anaknya manis, lugu, polos dan slowly...but I do love her. Banyak kegiatan ibadah yang kami jalani dan lewati (berdua bablas tidur kecapean di kamar hotel, melewatkan sholat fardhu di masjid).., dua kali berdesak2an di taman firdaus raodah, and shopping together. Dia teman yang paling baik meski sering banget saya jutekin. Ada juga mbak Ria pengusaha kepiting yang tajir (belanja mulu, kagak ada habisnya tuh duit). Hobbi selfiian dan live facebook, orangnya cantik, modis, dan yang pasti kindly, dan humble, Mbak Ria pulalah yang  bisa melintasi jarak, mempertemukan kami dengan teman-teman baru yang dari Surabaya. Dia mudah berbaur, sangat adaptif dan mudah berteman. Karena stylenya agak mirip Syahrini, kami pun kerap memanggilnya dengan sebutan mbak Syahrini, julukan ini cukup melekat mengingat dia pun menyukai sesuatu yang cetar. 
Ada mbak Delima yang suhunya backpacker, orangnya paling informatif, karena udah biasa googling dan searching ala backpacker. Grup kami sungguh kaya, kaya dengan orang-orang baik dengan 1001 gaya. Dan saya bahagia menjadi bagian dari mereka.

Kembali ke hari itu...
Dengan pesawat Malindo OD 319 kami menuju Kuala Lumpur tempat bertemu dengan koordinator kami dan jamaah dari Surabaya. Hanya saja kami memilih memisahkan diri, tidak ikut grup city tour KL. Karena alasan lelah hayati. Kami memilih istirahat di hotel, apalagi cuaca cukup mendukung, hujan dan mendung gelap kala itu, karena berangkat sedari subuh, ditambah delay dan antrian panjang imigrasi, kami rasa badan pun butuh hak untuk ditunaikan.

Keesokan harinya, setelah bertemu dengan grup surabaya dan diperkenalkan dengan team leader, termasuk bus berapa -grup Jakarta dapat bus 2-. Setelah proses group check in selesai, saya dan suami inisiatif mendaftarkan Garuda miles  kami sebagai anggota sky team, karena setahu kami Saudia termasuk maskapai yg tergabung dalam aliansi tersebut, sangat mudah ternyata, cukup nunjukin kartu gff, dan automatically, poin tersimpan, dan hebatnya sistem di Saudia, bisa ngedetect pulang perginya jadi begitu balik gak usah nunjukin kartu lagi, nama kami sudah tercantum sebagai pemegang garuda miles, dengan no. keanggotaaan tercetak di tiket kami. Karena status keanggotaan suami masih gold, ada penambahan bagasi yang sangat berguna pada saat kepulangan, disaat koper kami sudah beranak pinak.


Bagi saya, ini kali pertama terbang dengan pesawat Saudia airlines, dan satu hal yang berbeda mereka memberikan ruang untuk sholat, ada mushollah yang berada di belakang. Salut pada Saudia yang mengikhlaskan kira-kira 3 deret kursi di bagian belakkang untuk dijadikan mushollah. Tentang kerennya mushollah ini bisa di baca disini. Nyamannya lagi setiap mau take off kita dituntun untuk membaca doa yang semua ter display baik di layar monitor depan kursi masing-masing. Hamdulillah...saya suka naik Saudia.

Tontonan 'favorit' selama dalam perjalanan

Sembilan jam tiga puluh lima menit di dalam pesawat adalah waktu yang membosankan.Seperti sebelum-sebelumnya saya termasuk orang yang susah tidur dalam perjalanan, saat suami mulai lelap disamping saya, saya malah tahan melek, saya mencoba menikmati pilihan hiburan layar monitor di dalam pesawat, namun tak mampu mengusir kebosanan saya , balik lagi saya hanya mengaktifkan info flight di layar monitor, memantau pergerakan pesawat dan info2 terkait lainnya.

Finally arrived at Jeddah
Singkat cerita sampailah kami di Jeddah. Setelah melewati proses imigrasi yang panjang dan sungguh melelahkan -entah kenapa para petugasnya seolah2 lamban dan acuh beibeh- sementara kita sudah jet lag dan lelah hayati...

Saatnya ngurusin bagasi masing-masing, gak ada tuh handling airport, dorong bagasimu masing-masing ke tempat bus menunggu. Ini adalah kali kedua saya umroh dan pertama buat suami, jika sebelumnya langsung duduk manis, kali ini kami harus mengurus bagasi sendiri. Untung gak sampai harus nyari bus sendiri (hehehehe). Di poin ini baru kerasa backpackernya. Berat? Gak mau lagi? Gak tuh. Udah biasa handling kebutuhan traveling sendiri...dan itu biasa dan gak ada apa-apanya. Apalagi bersama pasangan, koper2 gede bisa teratasi dengan mudah, kebayang kalau troly dua harus didorong sendiri hihih. Mungkin itu baru dibilang perjuangan hidup.

Perjalanan ke madinah pun di mulai...
Jarak jeddah-madinah kurang lebih 490 km yang bisa ditempuh selama 5-6 jam perjalanan bus, ditambah satu kali rehat makan malam. Jalannya mulus dan lancar. jalan aspal sangat mulus ini merupakan jalan baru yang dibuat berdasarkan jalur Hijrah Rasulullah SAW. Terbuat dua jalur pulang-pergi dan tiap jalur lebarnya cukup untuk tiga buah kendaraan atau sekitar 12 meter. Mata saya yang sayup mencoba mencari keberadaan kereta atau setidaknya rel Kereta Ekspres Haramain yang dijadwalkan beroperasi akhir 2017 kemaren, kebayang kalau naik kereta jarak tempun jeddah madinah hanya 2,5 jam. Hanya saja saya tidak menemukannya. 
Bus kami yang besar
Berhenti untuk sholat magrib dan isya, sekaligus makan malam sambil menikmati minuman hangat (teh atau kopi)
Sepanjang perjalanan kami dibimbing muthowif untuk mengucapkan kalimah2 talbiyah, tetiba sesak dada ini, mengingat sanak keluarga, rombongan umroh pertama, serasa dejavu bahwa merekalah yang ada bersama saya di sini...Makin mendekati kota haram madinah semakin haru, mata semakin sulit terpejam. Serasa tak percaya bisa kembali kesini lagi.

"Labbaika allahumma labbaik, labaika laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan-ni’mata laka wal mulk, laa syariikalak."

Kami (datang) memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.

Mata saya kian berkaca-kaca membaca kalimat talbiyah ini. Sungguh terharu, karena sebentar lagi saya akan menginjakkan kaki di Tanah Suci, sebentar lagi saya akan datang ke Rumah Allah di Tanah Suci. 
Rejeki kami dapat hotel bagus, Al Nokhbah
Finally sampailah kami di hotel, takjub karena dapat hotel di ring 1, dekat banget dengan masjid Nabawi, Hotel Al Nokbah, hotel bintang 4 -ceritanya hotel kami diupgrade oleh provider setempat-. Maka nikmat Allah yang manakah yang akan kamu dustakan?

Setelah pengenalan medan oleh koordinator, kami dipersilahkan istirahat. Hari yang sungguh melelahkan. Disisi lain raga butuh rehat, namun tak sabar ingin segera memperbanyak ibadah di masjid Nabawi...cerita saya tutup sembari menutup mata malam itu. Saya butuh istirahat untuk cerita yang lebih panjang lagi besoknya...

Cerita lainnya disini yah:

Memilih Umroh Backpacker
Umroh backpacker part 3. Sejuknya Kota Madinah Al Munawwarah

Kamar kami yang luas di al nokhbah
My roommate...

Di depan Hotel 
Varian makanan yang gak bikin kuatir bakal kelaparan

Pilihan buah seger yang yummi dan sehat...vitamin C terjamin

Asinan/ Manisan/ tumpah ruah disini....

wah...jadi luapaaarrrr

Puding almarai yang ngangenin...aku suka yang rasa vanila karamel

Yoghurt, dan produk turunan susu

Add caption

8 comments

  1. Replies
    1. yuhuuu....lanjutt dah. Biar kagak lupa di catettt

      Delete
  2. merinding baca kalimat talbiyahnya semoga aku juga bisa kesana aamiin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamin, insha allah bisa. Semoga Allah mudahkan...langkah2 menuju ke sana. Aamin

      Delete
  3. Baca ini, sumpaaah jd pengeeen bgt cepet umroh. Rasa ga sabar mau rumah Allah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamin. Semoga Allah mudahkan langkah-langkah kita yah mak, Thanks udah mampir. Nanti boleh saya main ke 'rumahnya' juga?

      Delete
  4. Mbak baca ini ku sampai menitikkan air mata. Ingin rasanya bertamu ke rumah Allah. Doakan ya mbak, jazakillah khairan 🙏🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamin..sama-sama mendoakan mbak anisa. Semoga Allah mudahkan langkah2 kita menuju Baitullah

      Delete