Umroh Backpacker part 3...#Sejuknya Kota Madinah Al Munawwarah


21 Januari 2019


Madinah

Madinah menyambut dengan udaranya yang sejuk. Dingin...dengan suhu 11 derajat. Perlu coat tipis untuk menghalau udara Madinah kala itu, bahkan jelang  subuh dinginnya semakin menggigit, sehingga perlengkapan winter yang sedianya akan di pakai di Mt. Uludag, Turki, terpaksa dikeluarkan ,  saya butuh sarung tangan dan sweater di balik gamis tipis saya.


Pelataran Masjid Nabawi dengan payung cantiknya dan pasangan yang lagi berbahagia. uhuk!
Kota ini selalu memanggil-manggil,  kota yang Allah SWT pilih  sebagai tempat hijrah, tempat tinggal, tempat Rasulullah wafat. Kota yang dicintai Rasululullah dengan segenap hatinya, kota dimana para syuhadah, pahlawan-pahlawan Islam yang dimakamkan di pemakaman Baqi dekat Masjid Nabawi. Kota Yastrib yang selalu membuat hati tergetar menahan rindu...

Seperti diketahui, sebelum dinamakan Madinah, kota ini dulu masih bernama Yastrib . Saat Rasulullah SAW hijrah di tahun ke-14 kenabian, Madinah masih bernama Yastrib. Rasulullah  SAW mengganti Yastrib menjadi Madinah karena arti kata Yastrib sendiri yang kurang baik. Yastrib berasal dari kata tatsrib (celaan/makian) atau tsarab (hancur). Maka Rasulullah SAW menggantinya dengan nama Madinah (Ibnu Hisyam dan Ibnu Majah) (1). Madinah pun terkenal sebagai Madinatun Nabi (Kota Sang Nabi) dan Madinah Al Munawarah yang artinya kota yang bercahaya. Selain itu Madinah juga memiliki nama thabah (yang baik) atau thayyibah (yang suci). (dari sumber asli entah dimana)

Di dalam hati Nabi Muhammad SAW, Madinah memiliki posisi tersendiri. Meskipun beliau lahir dan tumbuh besar di kota Mekkah, akan tetapi beliau sangat mencintai kota Madinah, bahkan melebihi cinta beliau kepada kota Mekkah. Tempat yang paling dimuliakan adalah Makkah Al-Mukarramah, namun tempat yang paling dicintai Nabi Muhammad adalah Madinah Al-Munawwarah, beliau SAW pernah berdoa;

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kecintaan kami terhadap Makkah atau lebih cinta lagi.”



cordoba-umrohhaji.blogspot.com




Lalu mengenai Masjid Nabawi, ah  masih terbayang rasa yang begitu kuat,  meninggalkan kesan yang begitu dalam, suasananya yang syahdu, tenang, di setiap sudutnya, pelatarannya yang luas dengan payung indahnya, ke 22 pintu besarnya yang berwarna kuning keemasan, lalu raoudah taman syurgawi, makam Rasulullah, kubah hijaunya, suara merdu adzannya, shalat berjamaahnya. Ya, Allah...kian merindu.

Tentang payung cantiknya saya selalu menunggu momen membuka menutupnya di jam-jam tertentu. Pemandangannya sungguh indah, biasanya payung ini terbuka selepas subuh, atau selepas dhuha. Lalu payung akan menutup kembali setelah menjelang shalat Maghrib, namun berbeda waktu saya datang kali ini, payung membuka 30 menit sebelum adzan subuh, mungkin untuk menghalau dinginnya kota Madinah waktu itu, saya selalu menunggu salah satu momen indah itu dan di hari terakhir di Madinah, saya bergerak lebih cepat sebelum subuh demi melihat pemandangan indah itu. Tentu saja setelah sehari sebelumnya saya tanya ke information centernya.


Sedikit tentang sejarah Masjid Nabawi yang diambil dari sini

Masjid Nabawi adalah salah satu mesjid terpenting yang terdapat di kota Madinah,Arab Saudi. Masjid ini dibangun oleh Rasulullah Saw dan menjadi tempat makam beliau dan para sahabatnya. Masjid Nabawi merupakan salah satu masjid yang utama bagi umat Muslim setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsa di Yarusalem, dan juga merupakan Masjid terbesar ke-2 di dunia, setelah Masjidil Haram di Makkah.

Masjid Nabawi adalah masjid kedua terbesar yang dibangun oleh Rasulullah SAW setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah beliau dari Mekkah ke Madinah, yang dimulai pada bulan Rabi’ul Awal Tahun 1 Hijriah(September 662 M). Masjid Nabawi dibangun sejak saat-saat pertama Rasulullah SAW tiba di Madinah, yaitu tempat unta tunggangan nabi Saw menghentikan perjalanannya. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim du bersaudara SAhl dan Suhail bin Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah Saw seharga 10 dinar untuk dibangun masjid dan kediaman beliau. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Rasulullah SAW dan selanjutnya oleh para sahabat, yang di mulai dari Abu BAkar Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Awalnya,Masjid ini berukuran sekitar 50 meter x 50 meter, Dengan tinggi atap sekitar 3,5 meter. Rasulullah SAW turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para sahabat dan kaum muslimin. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama Sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.

Melekat pada salah satu sisi masjid, di bangun kediaman Rasulullah SAW. Rumah beliau tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, namun lebih tertutup. Selain itu ada pula bagian yang di gunakan sebagai tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak memiliki rumah. Orang-orang ini dikenal sebagai ahlussunnah atau para penghuni teras masjid.

Pelataran Masjid yang selalu sejuk
  
Salah satu sudut yang sepi depan Museum Asmaul Husna
Kami menghabiskan waktu 3 hari di kota Madinah, selain memperbanyak ibadah di Masjid, kami juga berziarah ke tempat-tempat bersejarah di Madinah seperti Masjid Quba, Qiblatain, Uhud, mengunjungi museum Asmaul Husna, terakhir tak lupa kami mengunjungi kebun kurma dan tentu saja belanja...atau minimal window shopping



Masjid Quba

with team UBP Jekardahh di kebun kurma

Jabal Uhud saksi sejarah

Masih di Jabal uhud dengan latar masjid yang baru dibangun
Kalau soal belanja, saya masih lebih nyaman belanja di Madinah, kotanya lebih teratur, tempat perbelanjaannya apalagi. Pedagangnya juga ramah-rmah (heheh kalau pedagang mah dimana-mana kudu ramah, kalau gak mau ditinggalin pembeli). Yang jelas hasrat window shopping tetep tersalurkan.  Apalagi denyut kehidupan kota hampir 24 jam gak ada hentinya.  Sesekali masuk ke Mall ngebandingin harga barang-barang branded yang dijual di mal dan di toko. Branded macam  The Body Shop, Casio, Swatch, bertebaran disana.  Tidak mau mengulangi kesalahan sebelumnya, menumpuk belanjan yang tidak kepake sama sekali sesampainya di Indonesia. Akhirnya saya hanya membeli yang perlu-perlu saja, termasuk beberapa pesanan orang, apalagi pertimbangan gak mau  bawa berat2 ke Turki. Alhamdulillah... amaan buat kantong dan koper saya. Saya hanya bawa berbotol2 air zam-zam yang saya ambil sendiri menggunakan botol bekas air mineral, dipack dan diwrap sedemikian rupa biar gak bocor di dalam bagasi.

Oh ya, Masjid Nabawi dikelilingi pertokoan dan hotel-hotel besar. Yang bisa dikunjungi sepulang dari masjid menuju hotel, biasanya para jamaah suka nyantol di salah satu atau salah dua toko-toko yang berjejer rapi sepanjang jalan itu. Namun, jika mau lebih murah (tergantung kekuatan menawar juga sih) ada pasar di luar pintu 7, semacam pasar tradisional yang dilengkapi tenda-tenda putih. Dua tahun sebelumnya, saya belum menemukan pasar ini.

Positifnya, kali ini saya tidak menemukan pedagang liar yang akan kabur begitu petugas menghampiri meskipun transaksi sedang berlangsung, saya pernah mengalami soalnya. Sementara transaksi tiba-tiba penjualnya lari sebelum saya membayar belanjaan. Saya menunggu, tapi tak kunjung datang, begitupun besok dan besoknya lagi. Hingga peci itu terbawa sampai ke Indonesia. Mudah2an penjualnya menghalalkan itu untuk saya.

Cerita umroh lainnya disini yah:
Memilih Umroh Backpacker
Umroh Backpacker part 2. Handling your baggage...



Tampak tenda2 penjuall, begitu keluar dari di gate 7


Disini, kekuatan menawar menentukan harga hahahah

Panggilan sayang dan harapan manis buat buah hati, kali ketiga berlima yah...Insya Allah








4 comments

  1. semoga abangnya ikhlasin y mba tuh peci hehehe..aku juga terkagum2 sama mesjid nabawi ya Alloh baca ini semakin bertekad kesini semoga Alloh memudahkan aamiin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamin. dan semoga Allah mudahkan kita untuk bisa berkunjung lagi dan lagi ke sana. Aaamin

      Delete
  2. Uuu ku terharu mbak, sangat ingin ke sana 😢

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insha Allah bisa dan semoga di mudahkan, Aamin

      Delete