Surga di Maratua


Pengen bercerita sedikit tentang sepotong surga yang jatuh ke bumi, terhampar dengan sangat indahnya hingga ke palung yang paling dalam.

Mungkin benar, Tuhan lagi tersenyum ketika menciptakan Pulau Maratua dan pulau-pulau di sekitarnya. Karena bukan hanya yang nampak, yang tersembunyi di dasar laut pun, sungguh indah.

Dan berbahagialah bagi yang memiliki kesempatan mencicipi surga ini. Sejenak saya terpukau beberapa saat begitu boat kami merapat ke dermaga pulau Maratua. Seketika saya lupa kalau baru saja melalui perjalanan yang cukup melelahkan sekaligus menegangkan, speed boat kami berkapasitas 20 orang, digerakkan dengan mesin tempel 200 PK  beberapa kali dihantam gelombang yg cukup tinggi. Terombang-ambing selama kurang lebih 3 jam dari Tanjung Redep ke Maratua. Tantangan nyebrang ke Maratua memang ini, kalau cuaca kurang mendukung ombaknya bisa gilaa...Salah seorang penumpang sampai mabuk berat, yang lainnya sih karena sesama 'pelaut kw' jadi tahan bantingan.

*Tentang Bapak*

Lelaki pembelajar itu telah pergi. Pergi dalam kesunyian. Dengan bangga selalu menyebutkan dirinya sebagai peneliti alam semesta. Beberapa kali membantah temuan ilmuwan di buku2 iptek. Bahkan menciptakan satuan ukur baru. Selain catatan tentang iptek. Catatan tentang penelitian alam semesta lengkap ditulis tangan pun di ketik manual. Beberapa masih menggunakan ejaan lama.

Berdiskusi lebih bersemangat lagi. Apalagi jika beliau merasa kita teman diskusi yg asyik. Saya termasuk pendengar yg baik karena sesekali bisa menimpali. Dan menikmati ‘my prof’ menjelaskan sedetail2nya dengan bahasa awam yg mudah di mengerti.

Lalu muncul istilah ini. “Aksi Reaksi Diaksi Mengaksi”. Bagaimana alam semesta ini saling bersinggungan. Karena seringnya mengucapkan kalimat ini. Saya dan kakak2 serta adik2 jadi familiar dan sering mengucapkan itu kala bertemu.