*Tentang Bapak*

Lelaki pembelajar itu telah pergi. Pergi dalam kesunyian. Dengan bangga selalu menyebutkan dirinya sebagai peneliti alam semesta. Beberapa kali membantah temuan ilmuwan di buku2 iptek. Bahkan menciptakan satuan ukur baru. Selain catatan tentang iptek. Catatan tentang penelitian alam semesta lengkap ditulis tangan pun di ketik manual. Beberapa masih menggunakan ejaan lama.

Berdiskusi lebih bersemangat lagi. Apalagi jika beliau merasa kita teman diskusi yg asyik. Saya termasuk pendengar yg baik karena sesekali bisa menimpali. Dan menikmati ‘my prof’ menjelaskan sedetail2nya dengan bahasa awam yg mudah di mengerti.

Lalu muncul istilah ini. “Aksi Reaksi Diaksi Mengaksi”. Bagaimana alam semesta ini saling bersinggungan. Karena seringnya mengucapkan kalimat ini. Saya dan kakak2 serta adik2 jadi familiar dan sering mengucapkan itu kala bertemu.

Pendidikan rendah tak pernah membuatnya surut belajar. Beliau hanya sempat mengecap pendidikan SR (sekolah rakyat) itupun saya gak yakin selesai sampai 6 tahun. Lalu belajar dr mana? Akses informasi yang sempit dan tidak memiliki banyak literasi. Belum punya tipi. Pun kalau punya siarannya hanya TVRI. Berada di kampung yg jauh dr hiruk pikuk kota dan kemudahan akses informasi.

Belajar dr alam dan terus meneliti. Itu jawabnya. Beliau bahkan tidak memiliki banyak buku referensi. Yg beliau simpan hanya buku2 pelajaran fisika smp/sma kami yg sudah menguninng.

Namun setelah kepergiannya. Ratusan catatan kecil beliau. Tetang keresahan, tentang iptek dicatat dengan rapi di dalam lembaran2 sisa buku tulis sekolah kami yg gak keiisi penuh. Catatan2 tersebut kami kumpulkan. Beberapa sudah beliau kumpulkan dengan rapi dan di rekatkan satu sama lain dan menjadi sebuah buku yg dr judulnya saja membutuhkan penalaran yg dalam utk memahami.

Belum lagi, dirumah barang2 hasil reuse, reduse, recycle banyak sekali. Semua dr tangan kreatifnya. Pemanas air buatan, rice cooker buatan yg terbuat dr panci. Tempat bedak jadi wadah saklar, botol2 bekas minuman. Semua jadi barang berguna ditangannya. Bahkan di atas tempat tidurnya, beliau membuat tempat berkemih sendiri yg dipersiapkan jika beliau sakit dan tak perlu merepotkan orang (yg alhamdulillah hingga akhir hayatnya tak pernah digunakan. Karena beliau meninggal tidak dalam keadaan sakit). Terbuat dari pipa paralon dilengkapi dengan flush. Jangan bayangkan bentuknya bagus, karena semua terbuat dr barang abis pakai.

Di rumah kami yg sederhana. Ada beberapa titik rahasia beliau termasuk membuat banker utk penyimpanan dokumen dan barang berharganya. Dalam sebuah liang, yg diatasnya ada air yg mengalir. Can you imagine?? Itulah uniknya bapakku. Bapak miskad, my profesor tanpa titel. Tapi selamanya selalu jadi profesor buat kami. Dalam perenungan dan kontemplasinya. Banyak nilai2 yg ditemukan. Saatnya kami mengumpulkannya, menyimpannya dan mungkin mempublikasikan jika dianggap perlu.

Sedikit catatan kecil tentang seorang bapak dr putrinya yg selalu bangga padanya yg masih terus bersedih atas kepergiannya. Ditulis dengan tangan bergetar dan hati yg terus merindu...

Ditulis 2 April 2019
Ketika lagi rindu serindu-rinduuuunya
Mengenang Miskad (Madin Isa Kadir)
24 Agustus 1944 - 24 Maret 2019

No comments