Ada apa di Titik Nol Km Anyer-Panarukan ?


Anyer menyimpan banyak kisah, jika Slank mengisahkan dalam "Anyer 11 Maret"-nya yang syahdu -yang ketika pertama kali mendengar lagu tersebut- gak pernah nyangka jika yang nyanyiin lagu itu adalah Slank, gak habis pikir sama sekali Slank bisa seromantis itu bikin lagunya. Kisah selanjutnya tentang Anyer dikisahkan penyanyi dari negeri jiran Malaysia, mbak Sheila Majid  dalam lagu   "Antara Anyer dan Jakarta". Keduanya asyik di dengar, aku menyukai kedua lagu tersebut dan sering mendengar dan melantunkannya. Entah ada hubungannya atau tidak jika kemudian kisahku pun tertambat di pantai Anyer ini?

Tahun 2015 sebagai newlyweed yang harusnya bisa menikmati honeymoon sama suami, harus pasrah ikut suami yang kebetulan ada kerjaan di Anyer, sekitar seminggu setelah pernikahan. Jadilah kami menghabiskan masa-masa honeymoon "terpaksa" di salah satu penginapan pantai Anyer. Tahun-tahun setelahnya, kami pun beberapa kali menyambangi pantai -yang merupakan pelarian orang Jakarta jika ingin menikmati suasana pantai- entah pergi berlibur atau karena lagi-lagi ada kerjaan di sana.

Namun baru kemaren saya tahu jika Anyer, menyimpan lebih banyak kisah...



Setelah tsunami yang mengguncang daerah pesisir Banten hingga Lampung pada tanggal 22 Desember 2018 yang disebabkan oleh letusan Anak Krakatau di Selat Sunda. Sedikitnya 426 orang tewas dan 7.202 terluka dan 23 orang hilang (sumber : wikipedia) akibat peristiwa ini, diantara ratusan orang yang meninggal itu ada 3 orang personel band Seventeen yang kisahnya mengharubiru  meninggalkan simpati pada semua orang termasuk Brian May (Queen) yang mengupload di IG nya sesaat setelah kejadian. 

Minggu lalu, karena  ada kerjaan kamtor, berangkatlah kami ke Pandeglang, Banten. Menyisiri pantai Anyer setelah menembus beberapa titik kemacetan. Pak Boss yang menyertai kami, menanyakan...pernahkah saya naik ke Mercusuar yang konon tertua di Indonesia? Mercusuar? Tahu ada Mercusuar di Anyer pun kagak, hehehe. Pak Boss pun ngajakin mampir, beliaulah yang menjadi guide kami, masuk kawasan mercusuarnya gratis dan memang terbuka buat umum. Di dalam kawasan tersebut  ada monumen Anyer 0 Km nya, selain bangunan Mercusuar yang meski usianya berabad2 masih saja gagah berdiri.  Penuh semangat beliau menjelaskan tentang sejarah besar di balik monumen ini. Saya cuma manggut-manggut secara membayangkan kengerian yang terjadi dua abad lalu...

Mercusuar yang ternyata namanya adalah Mercusuar Cikoneng ini  pertama kali dibangun pada tahun 1806 yang kemudian hancur tanpa sisa ketika Gunung Krakatau meletus pada 1883. Kebayang dahsyatnya Tsunami waktu itu, Mercusuar kokoh khas bangunan Belanda bisa tersapu tsunami dalam sekejap. Namun tak berapa lama kemudian di tahun 1885 atas perintah Z.M Williem III sebagai Raja Belanda saat itu, dibangun kembali Mercusuar Cikoneng yang  masih berdiri kokoh dan berjarak 50 m dari tempat berdirinya semula.
Masih berdiri kokoh meski sudah berusia dua abad 
Penjelasan tentang Mercusuar Cikoneng, dan Mercusuar di sekitarnya bisa ditemukan di lantai 1
Tangga lingkar baja di dalam mercusuar

Lokasi Mercusuar Cikoneng ini tepatnya di jalan karang Bolong No. 123, Bandulu, Anyer, Desa Cikoneng. Karena bersama pak Boss dan mengendarai kendaraan sendiri cukup mudah untuk sampai di sini tinggal buka google map dan waze, dtuntunlah kita kesini namun jika kamu menggunakan bus dari Jakarta dan turun di Kota Cilegon, kamu bisa menyambungnya dengan angkot sampai ke bundaran Landmark Kota Cilegon atau Mall Mayofield. Dari bundaran/pertigaan ini, kamu harus ganti angkot dengan jurusan Anyer (pasar) dan lanjut angkot atau ojeg ke mercusuar. Dari pasar anyer ke Mercusuar Cikoneng ini jaraknya hanya sekitar enam kilometer.
Mercusuar Cikoneng dan Monumen Titik 0 km masih dalam kawasan yang sama
Sisa Reruntuhan menara cikoneng lama

Selain Mercusuar Cikoneng dalam kawasan yang sama kita bisa melihat Monumen 0 km Anyer Penarukan yang dibangun di bekas pondasi mercusuar sebelumnya yang hancur oleh Tsunami tersebut.  Disebutkan dalam sejarah bahwa Herman Willem Daendels dari Belanda menginjakkan kakinya pertama kali di Indonesia pada tahun 1808 di Banten. Daendels merupakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36 yang memerintah dari tahun 1808 sampai 1811.
Monemen Titik 0 km Anyer Penarukan

Selama kepemimpinannya, Daendels melakukan berbagai pembangunan. Dimulai pembuatan jalan rute Batavia sampai Banten pada tahun 1808 sampai 1809 dan pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan sejauh 1.000 kilometer pada tahun 1809 hingga 1810 dan untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangunlah sebuah tugu sebagai penanda titik nol kilometer pembangunan jalan Anyer Panarukan di bekas pondasi Mercusuar Cikoneng lama.


Meski di tempat itu memiliki tugu atau monumen sebagai titik nol pembangunan jalan Anyer–Panarukan, namun jalan aspal pertama yang dibangun oleh Deandels sudah tidak berbekas, hilang bersamaan dengan terjangan tsunami Krakatau. Jalan Anyer yang dibangun pada tahun 1825 ikut hancur akibat letusan tahun 1883.
Titik awal Mercusuar Cikoneng pertama yang hancur oleh tsunami, yang kemudian dibangunkan monumen Anyer 0 Km di atasnya

Pembangunan jalan yang kemudian dikenal dengan Jalan Deandels atau Jalan Pos (Pos Weg) bertujuan untuk mempercepat tibanya surat-surat yang dikirim antara Anyer hingga Panarukan atau sebagai jalan pos. Kini, jalan yang dibangun sebagian sudah berubah bahkan rusak dan hilang karena berganti dengan jalur baru.

Pembuatan jalan Deandels saat itu melakukannya dalam dua tahapan, tahap pertama merupakan pembuatan jalan untuk membuka poros Batavia–Banten pada tahun 1808, pada masa itu Daendels memfokuskan kegiatannya pada pembangunan dua pelabuhan di utara (Merak) dan di selatan (Ujung Kulon). Jalur ini melalui garis pantai dari Batavia menuju Carita, Caringin, menembus Gunung Pulosari, Jiput, Menes, Pandeglang, Lebak, hingga Jasinga (Bogor).

Tahap kedua dimulai tahun 1809. Dari Anyer melalui Pandeglang jalan bercabang dua menuju Serang (utara) dan Lebak (selatan). Dari Serang, rute selanjutnya ke Tangerang, Jakarta, Bogor, Puncak, Cianjur, Bandung, Sumedang, Cirebon, hingga Panarukan, sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Jalan inilah jalan yang di sebut jalan utama atau jalan protokol, tetapi itu tidak berarti bahwa tidak ada cabang-cabang jalan lainnya yang dilewati oleh Daendels. (dari berbagai sumber).

Anyer ternyata penuh sejarah dan memang layak dikisahkan. Sejarah yang akan terkubur jika jarang diceritakan, seperti saya yang berkali-kali melewati sepanjang jalan pantai Anyer dan tidak pernah tahu ada sejarah besar yang hampir terkubur di sana. Jika kamu ke Anyer sempatkanlah menengok sejarah di sana, tentang kengerian tsunami krakatau, yang tergambar jelas dari sana juga tentang kokohnya eks bangunan Belanda yang masih terawat rapi hingga sekarang. Lokasi ini cocok buat pemotretan prewedding uhukkk!!Pun postwedding tak apalah😉



4 comments

  1. Mercusuar dan benda-benda sekitarnya menjadi saksi bisu akan sejarah yang dilaluinya. Jadi PR banget nih, traveling nggak cuma sekedar foto-foto cantik tapi tahu akan sejarah trmpat tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetiba merinding mbak, kalau tahu bahwa ada kisah kelam di balik gagahnya sebuah bangunan bersejarah. Bolak-balik ke sana saya juga baru tahu...

      Delete
  2. Senangnya masih banyak tempat bersejarah yang masih terjaga kelestariannya. Semoga suatu saat bisa ke sana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga berkesempatan kesana yang mbak juga ke tempat tempat bersejarah lainnya

      Delete