Surga di Maratua


Pengen bercerita sedikit tentang sepotong surga yang jatuh ke bumi, terhampar dengan sangat indahnya hingga ke palung yang paling dalam.

Mungkin benar, Tuhan lagi tersenyum ketika menciptakan Pulau Maratua dan pulau-pulau di sekitarnya. Karena bukan hanya yang nampak, yang tersembunyi di dasar laut pun, sungguh indah.

Dan berbahagialah bagi yang memiliki kesempatan mencicipi surga ini. Sejenak saya terpukau beberapa saat begitu boat kami merapat ke dermaga pulau Maratua. Seketika saya lupa kalau baru saja melalui perjalanan yang cukup melelahkan sekaligus menegangkan, speed boat kami berkapasitas 20 orang, digerakkan dengan mesin tempel 200 PK  beberapa kali dihantam gelombang yg cukup tinggi. Terombang-ambing selama kurang lebih 3 jam dari Tanjung Redep ke Maratua. Tantangan nyebrang ke Maratua memang ini, kalau cuaca kurang mendukung ombaknya bisa gilaa...Salah seorang penumpang sampai mabuk berat, yang lainnya sih karena sesama 'pelaut kw' jadi tahan bantingan.

Tampilan dermaga/pintu kita menuju pulau Maratua, di ujung dermaga akan menemui landmark Maratua seperti di tampilan pic sebelum ini
Pulau Maratua mungkin belum setenar pulau di sebelahnya yang lebih dulu famous ketimbang Maratua yaitu Pulau Derawan (nanti akan saya ceritakan pulau ini di cerita yang lain). Namun kalau mau jujur pulau ini lamat2 akan mengambil alih trophy derawan, Derawan sudah terlalu sesak...dan sedihnya sudah terlalu banyak sampah, karang-karangnya juga sebagian sudah mengalami kerusakan.

Baca juga : Pulau Gosong Sanggalau : Padang Pasir di tengah lautan

Gimana cara kesana?

Darimanapun kota asalmu, ambillah penerbangan menuju Balikpapan, seperti saya dari Jakarta terbang ke Balikpapan dan lanjut lagi penerbangan ke Berau. Jika penerbangan ke Balikpapan beberapa kali dalam sehari dari berbagai maskapai lokal, lain cerita jika ke Berau, penerbangan kesana terbatas, harus mesan tiket jauh-jauh hari sebelumnya biar gak kehabisan, seperti saya yang kehabisan burung biru, akhirnya naik singa terbang juga ke Berau. Dari Berau naik mobil sebentar ke Tanjung Redep dekat kok dengan Bandara gak ada 30 menit nyampe ke Tanjung Redep.

Kemudian, lanjutkan perjalanan menggunakan kapal menuju Pulau Maratua. Kapal reguler beroperasi pada Senin, Jumat, dan Minggu. Karena  tujuan kami kesana adalah bekerja plus jalan-jalan, kami sudah menyewa kapal yang dibantu oleh operator lokal. Harga sewa berkisar 7-8 juta Kapalnya  muat bisa sampai 20 orang dengan mesin tempel 200PK  plus mabuk laut. Eh!

Kapal-kapal yang siap mengantarmu ke Maratua
Selfie dulu sebelum melaju dalam goyangan ombak yang mayan bikin mules 

Finally Dermaga Maratua


Feel the sea

Pulau-pulau Sekitar

Di sekitar pulau Maratua bertebaran pulau-pulau kecil yang tak kalah indahnya. Pulau-pulau sebut antara lain Pulau Sidau, Pulau Semut, Pulau Andongabu, Pulau Sangalan, Pulau Bulingisan, Pulau Nusa Kokok, Pulau Bakungan, Pulau Nunukan, Pulau Pabahanan, dan Gosong Pasir. Diantara pulau-pulau itu  ada yg berpenghuni ada yang tidak, salah duanya adalah pulau Sambit dan Pulau Kakaban. Kali ini cuman ngebahas tentang dua pulau terakhir ini.

Masyarakat Lokal yang sehari-harinya profesi sebagai nelayan dan sekali-kali jadi pemandu wisata

Pulau Sambit

Pulau Sambit
Nah! Pulau Sambit ini hanya seluas 0,18 km persegi dan tak berpenghuni. Hanya ada mercusuar dan petugas yg secara bergiliran berjaga di sana. Pulau yang hampir ditakutkan hilang dari peta Indonesia ini sudah dikelilingi tetrapod yang membentengi pulau ini. Namun karena semua daratan pulau ini berbentuk pasir halus, ancaman abrasi selalu mengintai.

"Pulau Sambit adalah pulau berpasir yang ditakutkan  hilang dari peta Indonesia karena ancaman abrasi."
Pulau Sambit mempunyai keindahan lainnya, yaitu juga sebagai tempat bertelur penyu hijau serta penyu sisik. Selain itu perairan di pulau ini memiliki 68 type ikan karang. Sedang terumbu karangnya mempunyai tipe terumbu karang pantai, dimana karang tumbuh pada kedalaman satu sampai 10 meter. Wow! Jadii...kamu gak perlu diving terlalu ke dalam untuk melihat terumbu karang, cukup snorkeling cantik di permukaan kamu sudah melihat keindahan bawah laut yang  luar biasa.



Pulau Kakaban

Danau yang tenang di Pulau Kakaban

Satu lagi pulau cantik dan unik lainnya adalah Pulau Kakaban. Kenapa unik? Karena  pulau ini melingkar dan ditengah-tengahnya adalah danau, dengan luasannya didominasi danau hingga 80 persen ketimbang daratan. Kondisi airnya tetap, tidak pernah pasang surut seperti laut. Danau ini juga merupakan habitatnya ubur-ubur mini yang tidak menyengat dalam jumlah ribuan. Konon hanya dua di dunia selain di Kakaban saudara kembarnya ada di Kepulauan Micronesia di kawasan Tenggara Laut Pasifik.  Mereka “terjebak” sejak ribuan tahun silam yang akhirnya hidup tenang. Kebayang kan ada komunitas ubur-ubur yang sejatinya harusnya hidup di laut, namun karena peristiwa alam yang entah apa yang terjadi dari zaman prasejarah, tepatnya di masa peralihan Holosin. Luas Danau Kakaban ini adalah 5 km2 dengan dinding karang yang terjal setinggi 50 meter. Konon dari sinilah Danau Kakaban terbentuk, ketika air laut yang terperangkap tak bisa kembali ke laut disitulah  mereka harus beradaptasi dan beranakpinak hingga beribu-ribu tahun ke depan. Mereka selain menjadi ubur-ubur 'air tawar' mereka pun menjadi lebih sopan dengan tidak menyengat seperi lazimnya nenek moyang mereka di laut lepas. Diyakini ada 4 jenis ubur-ubur mini yang hidup di danau kakaban ini. 
"Snorkeling bersama ribuan ubur-ubur ini menjadi spot wisata favorit di Pulau Kakaban yang juga di kenal Danau Kakaban."

Ilustrasi berenang dengan ubur2 di Kakaban. Pic dicomot dr om google

Oh yah, selain danau, di pulau tersebut juga ada daratan dengan tumbuhan pepohonan purba dengan sedikit ditumbuhi mangrove. Vegetasi dalam kawasannya terbagi tiga, yaitu hutan besar, hutan mangrove, dan danau yang dihuni ubur-ubur bersahabat.

Sayangnya saya hanya bisa memandang dan tidak bisa nyebur karena gak bisa berenang, semakin mengukuhkan niat harus bisa berenang, sehingga begitu balik ke sini lagi aku udah bisa bermain2 dengan ubur-ubur cantik itu.


Karena ini adalah worktraveling, saya hanya bisa meng'eksplor' sebagian kecil keindahan pulau Maratua ini. Sekali lagi ini bukan traveling yang semestinya, namun di perjalanan singkat ini (5 hari 4 malam) ada pertemuan resmi yang dihadiri pejabat setempat,  dan tentu survey -bagian yang paling saya suka- yang artinya berjalan ke lokasi yang notabene  semuanya adalah tempat wisata. 

Salah satu perlengkapan survey kami selama  kerja

Nginap di Mana di Maratua?

Nginap bisa dimana saja, searching di OTA atau operator lokal yang sudah membuka open trip include penginapannya. Ada Marina Resort Paradise, Green Nirvana Resort, Nobucca Dive Resort, Noah Maratua Resort, dll.  Kalau dapat resort nyempil seperti di bawah ini seruu kali yah, apalagi bagi yang honeymoon, mungkin ogah pulang... Gambar udara  di bawah iniadalah Noah Maratua Resort.

Salah satu resort nyempil di pulau Maratua

Kenyataanya, selama di Maratua kami menginapnya di rumah-rumah penduduk yang juga menjadi kelompok binaan kami. Meski resort-resort sederhana hingga mewah (private resort) bertebaran yang sayangnya banyak dikelola asing😒😔, namun menyatu dengan masyarakat lokal di pulau itu jauh lebih berkesan, kita bisa mengintip ibu-ibunya masak di dapur dan bisa nanyain resepnya juga loh heheeh. Intinya setiap ke pulau makannya pasti ikan yang masih menggeliat manja ketika akan di cemplungin ke penggorengan. Fresh from the sea!


Kondisi lingkungan masyarakat lokal di P. Maratua, umumnya rumah-rumah ini menyediakan penginapan
Salah satu pantai di salah satu Resort depan penginapan kami, yang juga di kelola masyarakat lokal, jadi bisa free masuk sini.

Salah satu tempat penyewaaan alat2 diving dan snorkeling 
Resort-resort yang terdata kebanyakan adalah kepemilikan asing meski dikelola dan bekerjasama dengan masyarakat lokal, rasanya tetap aja nyesekin kenapa bukan 'kita' yang menjadi pemiliknya, harganya pun kurang ramah dikantong. 
Solusi bagi yang ingin backpackeran kemari, adalah nginap di rumah2 penduduk, mereka rata-rata menyiapkan beberapa kamar di rumah mereka untuk wisatawan.

Solusi bagi yang ingin backpackeran kemari, adalah nginap di rumah-rumah penduduk, mereka rata-rata menyiapkan beberapa kamar di rumah mereka untuk tamu, kamarnya nyaman kok, ada AC nya juga. Meski tetap gak bisa dibandingin dengan resort-resort asing itu.

Kamar kami di salah satu rumah penduduk yang disulap menjadi penginapan dengan beberapa kamat. Lumayan kan
Salah satu tujuan kami kesana, yah mendata bangunan-bangunan wisata di pulau itu termasuk kepemilikan dan perijinannya, bagi yang gak patuh siap-siap aja hengkang dari bumi Maratua. Surga itu milik kita...bukan milik asing pun setengah asing.  

Yuk jelajahi ribuan pulau-pulau cantik di Indonesia. Jika kamu pernah ke Maldives konon Maldives gak ada apa-apanya di banding Pulau Maratau dan pulau-pulau sekitarnya. Kalau saya sih belum bisa membandingkan karena belum pernah ke Maldives😊. Tapi alhamdulillah, bahagia punya kesempatan mengunjungi -baru- sebagian pulau-pulau di Indonesia.  

Maratua sebaiknya masuk dalam list travel kamu, wajib dikunjungi minimal sekali seumur hidup, seperti Raja Ampat. Saya juga niatkan pengen kesana lagi dalam kondisi sudah bisa berenang, sehingga gak perlu takut snorkeling bahkan diving sekalipun...

No comments