WHEN I MET YOU

 



Kembali menyusuri usia 25 tahun, saat usia sudah hampir jauh meninggalkan titik itu, membawa ingatan ini terlempar jauh ke belakang. Masa-masa perjuangan dan air mata namun juga penuh tawa.

Kudatang dari masa depan hanya untuk menyapa aku yang dulu, memanggilnya dalam kenangan dan bernostalgia dengannya tanpa bisa mengubah apapun. Menyesal? Tentu tidak! Bahkan aku sangat ingin berterima kasih pada diriku yang sudah melewati masa 25 tahun itu. Seraya ingin berteriak, hey… aku yang di masa lalu! Terima kasih sudah memutuskan hal terbaik di kehidupanmu dulu, sehingga aku yang sekarang bisa menikmati dengan penuh kesyukuran atas keputusanmu itu.

Pikiran pun melayang jauh saat usia 25 tahun, masih bergulat dengan skripsi yang entah kenapa makin ditekuni makin sulit selesai. Ada saja rintangannya, sempat kelelahan dipingpong sana sini ditambah pembimbing yang sulit ditemui. Ditunggui di rumahnya sampai malam pun kadang gak jodoh ketemu. Waktu itu, mana berani menelpon dosen pembimbing, dosennya pun belum punya hand phone. Masih barang langka dan mahal di awal-awal kemunculannya. Bertemu pembimbing di kampus atau di rumahnya sudah bersyukur sekali.

Gelisah semakin memuncak manakala teman-teman seangkatanku sudah sarjana, tinggal aku yang sebentar lagi berstatus mahasiswa abadi kalau gak ditendang keluar dari kampus. Itu semua adalah buah keteledoranku, begitu memasuki semester akhir perkuliahan, aku mulai merasakan nikmatnya memiliki penghasilan sendiri, yang tadinya hanya kerja freelance sampai kemudian mengikatkan diri pada sebuah perusahaan yang memiliki jam kerja 8 to 5. Perusahaan yang menerima aku tanpa mempersoalkan aku sarjana atau bukan.

Tahun pertama, aku menikmati pekerjaanku sampai kemudian mendapatkan promosi. Skripsi semakin terlupakan. Hampir dua tahun aku hibernate dari kampus, bagaimana bisa menyelesaikan skripsi? Kubuka kembali diktat-diktat kuliah yang ilmunya sudah menguap. Serasa kuliah dari semester pertama lagi. Apalagi bidang pekerjaanku sangat jauh berbeda dengan studiku, seorang anak teknik elektro namun berkarir di dunia broadcasting sebagai produser acara pagi yang muatan acaranya lumayan berat, seperti menyiapkan materi headline news, dialog pagi dan tajuk utama yang dikejar deadline dan kebaruan tiap harinya, aku seperti kesulitan bernafas ditambah harus membelah diri dalam waktu yang bersamaan untuk menuntaskan skripsi. Kalau tidak ingat tanggungjawab kepada orang tua, aku mungkin akan menyerah detik itu juga.

Puncaknya, ketika harus dihadapkan pada kenyataan yang pahit. Hubungan asmaraku dengan orang yang kusayangi selama tujuh tahun kandas di tengah jalan. Aku kehilangan calon imam yang kuyakini sedari awal bahwa dialah orangnya. Aku patah hati dan merasa makin terpuruk.

Selama ini, sebagai orang yang well-prepared, aku menganggap hidupku sudah tertata dengan baik. Menikah di usia 25 adalah cita-cita yang rasanya tak begitu sulit diwujudkan toh aku memiliki kekasih yang meski hubungn yang kami jalani adalah long distance relationship tapi aku cukup yakin dengannya. Sayangnya, ternyata tak sesederhana itu, hubungan kami kandas justru disaat aku bersiap untuk memetik hasil dari tujuh tahun kebersamaan dengannya.

Patah hati, hubungan yang sebisa mungkin kupertahankan hingga titik akhir kebisaanku, akhirnya harus kuikhlaskan juga. Bukan jodoh. Ah, rasanya aku ingin sekali marah. Kalau bukan jodoh kenapa tidak ditunjukkan sedari awal. Wasting time aku menjaga jodoh orang selama itu. Keterpurukanku lebih dipertajam lagi dengan adanya tuntutan keluarga untuk segera menikah. Menagih janji menikah di usia 25 tahun seperti yang selalu kuumbar dulu.

Kesedihan kusimpan sendiri lalu kucoba mengelola hati, dan mengembalikan semuanya kepada pemilik hidupku. Kuyakin Allah sudah punya rencana baik untukku. kumemohon kepada-Nya untuk permudah jalanku, permudah urusanku dengan tetap berserah pada ketentuan-Nya

Bismillah, aku mencoba bangkit untuk membenahi hidupku satu persatu. Langkah pertama, menghadap atasan memohon ijin untuk cuti beberapa saat sambil fokus pada studi. Kusibukkan diri mengerjakan skripsi, mulai menargetkan untuk selesai di tahun itu juga, aku boleh gagal di satu sisi. Tapi aku tidak boleh membiarkan diriku gagal di studi. Berkat ketekunan untuk fokus pada tujuan aku pun berhasil meraih gelar Sarjana Teknik dengan IPK di atas 3. Lumayanlah untuk mahasiswa yang kurang fokus sepertiku.

Setelah urusan studi kelar, aku kembali ke pekerjaan yang kucintai. Urusan asmara, kuserahkan sepenuhnya pada Sang pemilik hati dan hidupku, Allah SWT. Akupun rasanya sulit memulai cinta yang baru. Meski desakan kapan menikah sudah seperti minum obat, acap kali diingatkan.

Bulan September tahun itu, ulang tahun ke 25 baru saja kulewati. Ulang tahun paling hampa di hidupku yang seketika bagai roller coaster karena badai asmara. Namun di penghujung tahun itu ada sapaan hangat yang datang dari masa lalu. Kenalan lama yang juga mantan fans yang iseng say hello setelah sekian lama tak saling berkabar. Salah satu orang yang dulu kuabaikan perasaannya padaku, kala itu aku masih menjaga jodoh orang. Memang selama bersama jodoh orang itu  jarang ada yang tahu karena secara kasat mata aku selalu sendiri karena hubungan kami LDR yang hanya ditopang surat-surat cinta.

Aku yakin, Allah menggerakkan semesta dan mempertemukanku dengan calon imamku dengan cara yang tidak terduga, dengan kemantapan hati aku mengiyakan si mantan fans-ku ini mengkhitbah tanpa aku pernah melihat wajahnya lagi setelah bertahun-tahun tak bertemu. Kami bertemu di semester awal perkuliahan kemudian kembali terhubung melalui sambungan jarak jauh karena berbeda pulau. Pada akhirnya takdir mempertemukan kami kembali di pelaminan setelah sekian tahun terpisahkan.

Aku akhirnya menikah tanpa pacaran dengan suami. Kini usia pernikahan sudah memasuki 16 tahun dengan 3 putra putri. Semoga kami selalu saling menjaga. Aku bersyukur, rencana menikah di usia 25 tahun terwujud juga meski hampir meleset, menikah di tanggal 11 September dan ulang tahun ke 26 pada tanggal 24 September di tahun yang sama.

Satu hal yang pasti, jangan pernah ragu akan mimpimu dan yang terpenting selalu libatkan Allah dalam setiap rencana hidupmu.

Tulisan ini  ada di buku antologi "25 Years Old" jilid 2, nulis yuk batch 75 dalam event kepenulisan Nulis Yuk 





AKSI REAKSI DIAKSI MENGAKSI

Bapak (alm) dan Mama


Dear Bapak,

Sejak kepergianmu ada ruang hampa di hatiku, tapi aku tak ingin mengisinya dengan apapun, kecuali kenangan tentangmu. Ketakutanku adalah kenangan yang kupunya denganmu akan tergerus oleh waktu. Meski aku amnesia sekalipun, aku ingin engkau tetap hidup dalam pikiran dan kenangan tentangmu. Karenanya, biarkan aku menuliskan kisah ini, biarkan terus kuputar kaset kenangan  kita,  sampai tiba saatnya aku pun pergi.

Bapakku sayang,

Engkau adalah lelaki pembelajar yang pergi dalam kesunyian, tiba-tiba pergi tanpa pesan sakit atau apapun yang bisa kupahami. Engkau yang selalu bangga menyebut dirimu sebagai peneliti alam semesta. Beberapa kali membantah teori ilmuwan di buku Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Bahkan menciptakan satuan ukur baru.

Selain itu, catatanmu tentang penelitian alam semesta yang masih berupa tulisan tangan atau ketik manual dengan mesin ketik tuamu, masih tersimpan rapi. Beberapa catatan seperti rumus atau seperti kode rahasia yang meski sekuat tenaga kucoba memahami maksudnya. Aku tetap tak bisa mengerti.

Bapakku sayang,

Engkau adalah teman berdiskusi yang menyenangkan, aku masih ingat tone suaramu akan meninggi dan bersemangat jika bertemu dengan teman diskusi yang satu frekuensi denganmu, alih-alih memahamimu, banyak yang memilih menghindari berdiskusi denganmu karena bahasa dan pemahaman tingkat tinggi yang sulit dipahami. Namun, aku penikmat setiap perkataanmu, aku bisa betah mendengarkan teorimu, meskipun berkali-kali aku mendengarkan hal serupa, dari berpuluh tahun aku menjadi anakmu.

Yah, aku tertempa menjadi pendengar yang baik dan mencoba memahami ruwetnya lalu lintas pemikiranmu dan berusaha menemukan benang merahnya dari pengalaman dan ilmu yang aku dapatkan sendiri, aku fans beratmu, ‘my prof’! 

Lalu muncul istilah ini, “Aksi Reaksi Diaksi Mengaksi”. Bagaimana alam semesta ini saling bersinggungan, saling bersinergi. Katamu, tidak ada satu pun di dunia ini yang bergerak tanpa sebab dan akan saling mempengaruhi satu sama lain, ion-ion itu bergerak menemukan lintasannya. Karena seringnya mengucapkan istilah ini, disetiap sesi ‘kuliah’ denganmu, kami anak-anakmu menjadi familiar dengan kalimat itu.

Bapakku sayang,

Tadi aku menyebutmu, my prof tapi dengan tanda kutip, karena engkau memang bukan professor. Engkau hanya manusia berpendidikan rendah namun memiliki pemikiran brilliant. Daya jangkau pemikiranmu melebihi kami yang sekolahnya tinggi-tinggi ini. Engkau hanya sempat mengecap pendidikan SR (sekolah rakyat), namun tak ada satupun dari kami yang mampu berpikir sepertimu.

Bapakku sayang,

Dulu apapun titahmu, sebisa mungkin kupenuhi, karena kami anak-anakmu tidak selalu diberi kesempatan memilih. Karena memang keadaan tidak selalu berpihak kepada kita.

Apalagi terkait pendidikan, engkau mewajibkan kami jadi anak berprestasi di sekolah. Bagimu tidak ada juara dua, hanya boleh juara satu. Sebegitu kerasnya engkau mendidik kami, sehingga kami bertujuh bisa menjadi sesuai keinginanmu. Anehnya, meski selalu membawa prestasi, tak sekalipun engkau memuji kami (meski belakangan kami tahu dari cerita orang-orang, betapa bangganya engkau pada kami). Bagimu wajar bagi seorang pelajar untuk berprestasi, jadi tidak perlu ada selebrasi.

Wisuda demi wisuda, perayaan demi perayaan tak satupun engkau hadiri. Akhirnya aku pun tahu, engkau tak pernah butuh panggung, engkau selalu berdiri di belakang kami menjadi penopang dan perisai kami, pendorong bagi cita-cita kami.  Terutama menjadi penyandang dana yang tidak sedikit bagi kami bertujuh.

Bapakku sayang,

Begitu kerasnya engkau mendidik kami, sehingga kami pun berjarak denganmu, tak ada hubungan emosional yang drama denganmu, kami semua takut padamu, tapi tidak di akhir-akhir hidupmu. Engkau kerap tiba-tiba datang memelukku, mengusap-usap punggungku, merapal doa dan harapan untukku. Engkau berubah menjadi sentimentil di hari tuamu, mungkin juga karena kita berada di kota berbeda. Aku sungguh merindui saat-saat aku pulang ke pelukanmu.

Maafkan kami anak-anakmu karena meninggalkanmu sendiri ketika kami semua pergi meninggalkanmu untuk membangun istana baru, menjadikanmu raja yang kehilangan rakyatnya. Sekuat apapun kami memintamu ikut bersama kami, engkau memilih menikmati masa-masa tuamu dalam kesendirian.  Lebih menyedihkan lagi, saat kami memiliki kartu keluarga masing-masing dan hanya tertinggal namamu di kartu keluarga lama kita, pada akhirnya namamu satu-satunya yang tersisa di sana.

Bapakku sayang,

Terima kasihku untuk kebijaksanaanmu, untuk pikiranmu yang luar biasa, meski hidup di desa dengan budaya patriarki, namun tidak berlaku untukmu. Bagimu, perempuan harus memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki. Anak-anak harus bersekolah setinggi-tingginya, meski hidup kita pas-pasan. Terima kasih tidak tergiur mahar tinggi maupun uang panaik lalu menikahkan anak-anak perempuanmu di usia dini. Tidak seperti orang tua pada umumnya waktu itu. Mereka  menghentikan cita-cita anaknya karena menikahkan mereka selagi dini dengan iming-iming uang panaik tinggi karena hal tersebut juga melambungkan strata social di mata masyarakat.

Ah, apa jadinya aku, jika engkau seperti mereka, aku tak mungkin bisa memeluk cita-citaku.

Terima kasih, pak. Meski hidup kita sempit, meski tanganmu melepuh mengais rupiah, engkau tak bergeming meski anakmu dipinang dengan banyak rupiah.

Bapakku sayang,

24 Maret 2019 adalah akhir hidupmu di dunia dan awal bagi keabadianmu di sana. Hubungan duniawi kita sudah putus dan berakhir, namun kenangan tentangmu baru saja dimulai. Wahai cinta pertamaku, aku bangga menyandang namamu di namaku.  Aku samsurya anugrahmu, akan selalu bangga pada lelaki sederhana sepertimu. Walau berbeda alam, aku tetap bisa mengirimkan cinta melalui frekuensi doa yang kulangitkan untukmu, semoga menemui lintasannya dan doaku sampai padamu.

Kita sudah berbeda alam, tapi engkau selalu menyiapkan aku untuk itu, aku ingat kata-katamu untuk jangan terlalu bereaksi berlebihan jika tiba saatnya engkau pergi.

“Saya hanya akan berpindah frekwensi, berada dalam dimensi yang berbeda. Memulai lintasan yang baru. 
Berpindah frekwensi akan dilalui dengan ledakan energi yang besar. Menyisakan fraksi-fraksi yang akan menyakitkan tapi itu wajar. Itu proses alam ketika kita berada dalam lingkaran energi, Aksi Reaksi Diaksi Mengaksi.
” (Miskad)

Aku memahami, sedih itu perlu tapi secukupnya saja. Engkau telah pergi dan aku ikhlas bersama doaku.

Tulisan ini dimuat di buku antologi "Surat Berharga" jilid 2, dalam event penulisan Nulis Yuk Batch 71, penerbit Motivaksi Inspira




Cerpen : Ketika Semesta Mendukung Cinta





Senja berarak meninggalkan peraduannya. Cahaya matahari yang  redup di ufuk barat membiaskan warna abstrak yang indah. Lukisan sang Maha yang selalu berbeda di sore menjelang malam, meski aku selalu berdiri pada titik yang sama tapi senja selalu memberikan warna yang tak pernah sama. Riak-riak air yang ditempa sinar keperakan, lama-lama menggelap. Adzan magrib baru saja lepas dikumandangkan. Langkah-langkah kaki kecil diseret menuju surau, dan gelak tawa anak-anak, menenangkan hati ini. Tak menyangka ragaku kembali ke tempat dimana aku bermula.
Kepalaku mendongak ke angkasa, kawanan burung tampak bergerak bersama membentuk siluet, menambah cantiknya senja hari ini. Kupejamkan mata dan perlahan-lahan memasukkan udara sebanyak-banyaknya dalam paru-paruku. Wangi laut, aroma senja, dan rindu. Harmoni yang tak pernah ada duanya.
Aku pernah mengatakan ini padamu, aku memiliki senja terindah di belakang rumahku. Senja adalah cerita yang tak pernah tuntas kuceritakan kepadamu, aku tak pernah bosan. Apalagi jika kupandang mata sipitmu membola mendengar ceritaku. Kamu awalnya tidak percaya, mana mungkin aku punya senja di belakang rumah. Apa aku tinggal di sebuah villa dengan pantai private? Aku pasti tergelak. Aku bukan sultan, ingat itu! Tawa kita pun melebur.
Semakin kutatap senja, semakin kumerindu padamu. Aku selalu berpesan padamu, carilah senja jika kau mulai merindukan aku. Percaya bahwa di belahan bumi yang lain aku pun mengarahkan pandang yang sama. Berharap dapat beradu rindu denganmu. Kita percaya pada ikatan rasa, ketika kita berada dalam satu frekuensi, rindu kita akan saling menyapa. Ketika kamu merindu, aku pasti merindu. Seperti relief, rasa itu terpatri kuat. Sekuat aku meyakininya.
Namamu Kim Dae Hyun,  pemuda berkulit kuning yang aku kenal tanpa sengaja. Wajahmu tampan seperti wajah para boy band yang tidak kusukai namun digandrungi teman-temanku. Aku bukan pecinta drama korea, aku tidak mengenali nama-nama para pesohornya, meski riuh sekelilingku membicarakan, betapa serunya nonton drakor, betapa tampan aktornya. Aku bergeming. Kalian terlalu cantik untuk menjadi pria seperti versi yang kusukai dari kaummu.
Kita bertemu di Bali, tepatnya di Nusa Dua. Waktu itu selepas subuh. Kita bertemu di traking jogging hotel yang kita tempati menginap. Aku ke Bali karena urusan pekerjaan dan kamu ke Bali karena ingin berlibur. Disitu tidak ada sunset, tapi sunrisenya sungguh indah. Kita hanya berdua menikmati langit yang tadinya gelap, pelan-pelan menjadi jingga. Lalu ada semburat warna ungu dan segaris halimun yang melintas, awan kecil yang berarak membiaskan warna-warna abstrak.
“Wow…” kamu berdecak kagum, dan menoleh ke arahku yang terdiam mematung menikmati keajaiban alam di hadapanku kini. Seolah-olah ingin mencari pembenaran. Akupun menoleh sekilas dan memberikan senyum, sambil mengangguk perlahan. Sejujurnya aku merasa terganggu. Menurutku ini peritiwa magis yang menjengkelkan jika disela. Aku sudah terbang ke nirwana bersama tujuh bidadari namun tersadari dengan adanya manusia bumi yang tiba-tiba bersuara, membangunkanku dari khayalan.
“Beautiful, isn’t!” sapamu, beramah tamah. Ingin kutunjukkan perasaan tidak suka diganggu. Tapi aku ingat, aku gak mungkin menunjukkan ketidaksopanan pada pendatang seperti dirimu. Bisa-bisa kamu pulang ke negaramu dan mengklaim semua wanita Indonesia sejudes aku. Karena jelas dari penampakan fisik, kamu bukan orang Indonesia.
“Kim Dae Hyun.” Dia mengulurkan tangan.
“Zigi.” Kusambut uluran tangganya sambil tersenyum.
Meski berkulit kuning, kamu fasih berbahasa Indonesia. Kamu kelahiran kota Bandung. Menghabiskan masa kecil hingga remajamu di sana, mengikuti orang tuamu yang bekerja di perusahaan Korea di Bandung. Walaupun sekarang kalian sudah menetap di Seoul. Tapi Indonesia adalah tanah air keduamu. Kamu lebih suka makan batagor ketimbang ttebbokki, lebih suka minum bajigur dari pada soju. Kalau yang terakhir, lebih ke pilihan hidup sebenarnya seperti kemantapan hatimu menjadi mualaf, dan menjadi penggiat remaja masjid Seoul di Itaewon. Kamu bilang, kamu takut aku mencari imam yang lain, padahal aku tahu kamu mualaf jauh sebelum kamu mengenal aku.
Keuntungan bagiku, aku tak perlu sibuk memikirkan kalimat apa yang harus aku ucapkan untuk berbicara padamu. Bahasa Inggrisku tak sebaik bahasa ibuku. Jangan tanya kemampuan bahasa Koreaku, aku cuma tahu Saranghae, itu pun karena kamu kerap mengatakan itu sambil menautkan ibu jari dan telunjukmu ke arahku, kalau begitu aku hanya bisa tersipu malu. Kemudian dengan iseng kamu menjawil hidungku, bagian dari wajahku yang paling kamu suka setelah mataku. Katamu, mataku adalah mata paling indah nomor satu di dunia, nomor duanya Aishwarya Rai. Hahaha kamu memang paling bisa membuat hatiku melambung.
Karena kamu bukan tipe lelaki yang masuk dalam list “lelaki yang membuatku menoleh dua kali ke arahnya pada pandangan pertama”. Aku tak mudah membuka hatiku padamu, aku hanya membuka hatiku sebagai teman bagimu. Kemudian kuberi garis polisi, kamu tak boleh masuk lebih dalam lagi, memasuki palung hatiku dan seenaknya mengukir reliefmu di sana, tak akan kuijinkan.
Namun, kenapa kemudian kamu begitu sempurna untuk kuabaikan? Sekuat hati aku menolakmu, namun perasaanku sendiri mengkhianatiku. Seluruhku, semestaku, bergerak menujumu. Sungguh aku tak berkutik,  perasaanku menciptakan sayapnya sendiri dan terbang menujumu. Aku tak berdaya.
Aku tidak suka mata sipitmu yang tinggal segaris jika kau tertawa. Tapi di dalamnya aku menemukan ketulusan dan danau yang ingin kuselami lebih jauh lagi.
Chagiya, aku rindu…
***
“Udah magrib. Nggak bagus anak gadis masih di luar rumah jam segini.“ Suara yang begitu kukenali mengusik lamunanku, matanya mengisyaratkan mengajakku pulang ke rumah.
Aku mengangguk dan bergerak mengikuti langkahnya. Dia, ibuku. Aku selalu sedih melihatnya menua, dan aku terlambat menyadarinya. Sejatinya, aku tidak ingin membuatnya sedih. Tapi kini, membuatnya tidak bersedih akan membuatku bersedih. Ibuku, belum bisa menerima Daehyun sebagai lelaki yang bisa kubawa ke hadapannya.
Sudah sebulan aku mencoba intens meyakinkan beliau, aku sengaja mengambil cuti untuk bisa mengambil hatinya. Sejak Daehyun terus mendesak untuk dikenalkan pada ibuku, orang tua satu-satunya yang kumiliki saat ini. Namun masih belum menemukan titik terang. Bagi ibuku, Daehyun tetap orang asing yang akan sulit melebur pada keluarga dan ketakutannya akan membawa aku pergi jauh meninggalkannya. Sebagai putri satu-satunya, berat baginya melepaskan aku yang bisa saja diabaikan di negeri seberang.
Kim Dae Hyun adalah cinta pertamaku, aku belum tahu bagaimana rasanya dicintai laki-laki selain Daehyun. Aku tak pernah bisa dan sanggup membayangkan. Bagiku cukup Daehyun saja, aku sudah bahagia. Tapi bagi ibuku, Daehyun bukanlah sumber kebahagiaanku. Aku sudah dibutakan oleh pesona drama korea yang sejujurnya tak pernah aku minati. Buat apa aku tergila-gila sama cerita romansanya. Aku sudah memiliki oppa yang lebih nyata dari pada kehaluan para bucin oppa-oppa drakor itu.
Kami berjalan dalam diam, hal terburuk selama hidupku adalah hubungan kami tidak lagi serenyah dulu sejak kehadiran Daehyun dalam kehidupanku. Ibuku tidak menyukai Daehyun. Aku hampir putus asa memperjuangkan hubungan kami. Namun Daehyun selalu sabar menyemangatiku.
Tujuh bulan sejak pandemi aku hanya bisa memendam rindu. Aku sudah lupa bagaimana rasanya tersenyum. Ada mendung yang selalu bergelayut di wajahku. Hanya Daehyun yang bisa menghiburku melalui video call. Memintaku mengencangkan doa, mengirimkan doa-doa yang bisa melunakkan hati ibu. Ingin rasanya aku terbang dan hanyut di dalam peluknya. Rindu dan takut kehilangan dia adalah rasa yang mengguncang pertahananku yang kerap jebol menganak sungai di wajahku.
Berbeda jauh dengannya, aku mengenal baik keluarganya. Beberapa kali ke Seoul, aku menginap dan  melebur di keluarga mereka. Keluarga Korea yang sangat Indonesia. Ibunya pintar mengolah masakan Indonesia. Bahkan menggabungkan keduanya. Salah satu masakan kesukaanku, adalah batagor saus gochukang. Kim Ara, adik perempuannya yang ceriwis, sedang semangat-semangatnya membangun chanel youtube berbahasa Indonesianya. Dia selalu menanyakan konten apa yang layak ditayangkan di youtube-nya.
Penerimaan keluarga Daehyun sangat berbeda jauh dengan penerimaan ibu,  saat aku mencoba mengenalkan Daehyun melalui cerita. Beliau menunjukkan ketaksukaannya. Karenanya, aku belum pernah mengijinkannya bertemu ibuku. Aku takut dia patah hati.
Bagaimana mungkin aku melukai hati perempuan yang sudah 27 tahun merawat dan membesarkanku sendirian? Sementara ayahku, aku tidak pernah mengenalnya. Sejak kecil, dia sudah meninggalkan aku dan ibuku kembali ke negaranya. Dia hanya meninggalkan jejak blasteran Eropa di wajahku, dan tubuhku yang tinggi semampai. Ibu tidak menginginkan kehidupan buruknya terulang padaku. Ah, aku tidak melihat sedikit pun niat jahat Daehyun padaku. Dia menjagaku seperti permata. Namun bagaimana aku meyakinkan perempuan yang paling aku hormati sejagad raya ini.
Chagiya…” suaraku tercekat. Sosok yang begitu kukenali berdiri di beranda rumahku, menyambut kedatanganku bersama ibu. Rinduku tertahan, tertutupi oleh sesak dan air mata yang keluar, ingin  ke menghambur dipeluknya. Tapi tertahan, aku menghargai perempuan yang berdiri disampingku.
“Dia menunggumu dari tadi. Dia datang melamarmu, dia sudah bercerita banyak. Jangan diam disitu,  sambut calon suamimu.”
Mataku terbelalak aku tak mampu lagi mencerna rasa yang berkecamuk, tubuhku menuntunku bergerak menghambur ke pelukannya. Kami menangis dalam rindu. Airmata ibuku berlinang menyaksikan cinta yang besar di hadapannya.
Dalam sujud panjang, tak henti kuucapkan syukur. Kucium tangan calon imamku yang mengimami kami sholat magrib. Lalu sungkem di kaki ibu.  Memohon restunya. Bertiga kami berpelukan dalam isak yang panjang.
***
Entah bagaimana semesta ini bergerak, bagaimana doa-doa dilangitkan dan menggerakkan hati ibu untuk menerima hubungn kami. Pada pertemuan pertama mereka, ibu sudah jatuh hati pada Daehyun. Pertemuan yang selalu aku cegah,  karena aku takut Daehyun terluka. Namun kemampuannya meyakinkan ibu adalah satu hal yang luput dariku. Aku sedang memetik buah sabarku yang selama ini menghadapi ibu dalam diam dan doa. Tidak pernah aku frontal seperti yang selalu Daehyun katakan padaku. Kelak semesta pasti berpihak pada kita.  Seyakin itu dia meyakinkanku. Kini kami diujung penantian dan doa. Menyemai buah kesabaran cinta kami.
*Chagiya: panggilan sayang (Bahasa Korea)